Scroll untuk baca artikel
HeadlineWisata

Wisata Kahyangan Api Bojonegoro, legenda pembuatan keris era Majapahit

690
×

Wisata Kahyangan Api Bojonegoro, legenda pembuatan keris era Majapahit

Sebarkan artikel ini

Empu Supo dikisahkan ahli bikin pusaka

Kayangan Api/Sumber: Wisatabojonegoro

Bojonegoro memang suatu kabupaten dengan berjuta cerita sejarah di dalamnya. Bermula dalam zaman kerajaan hingga zaman penjajahan, Bojonegoro selalu mempunyai kisah legenda yang menarik, unik, serta tak sedikit yang mengandung cerita mistis.

Seperti sebuah tempat satu ini. Kahyangan api sebuah tempat dengan nyala api abadi yang mengandung banyak cerita leegenda dizaman dulu.

Lokasi wisata

Tempat ini kini dijadikan salah sau tempat wisata yang ikonik yang ada di Kabupaten Bojonegoro. Berlokasi di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Menyimpan kekayaan alam yang cukup melimpah, khusunya gas alam.

Menurut sebuah penelitian di mana di tempat tersebut banyak sekali tersimpan kekayaan mineral berupa gas didalam perut bumi, hingga terjadi suatu patahan dan menimbulkan nyala api yang terus menerus dipermukaan

Api ini terus menyala dan tak pernah padam walau hujan deras sedang mengguyur. Bahkan api ini akan membesar menjelang malam hari. Mirip tempat wisata dengan sebutan lubaang api neraka diluar negeri, diKahyangan api ini juga membentuk sebuah kawah dengan berbagai semburan api diberapa titik.

Baca Juga:   Pesona wisata religi makam Wali Kidangan Bojonegoro, penuh cerita mistis

Tidak cukup sulit untuk mencapai ke lokasi. Akses jalan yang sudah baik ditambah banyaknya rambu arah yang cukup jelas dan benyak membuat anda takkan kebingungan saat menuju ke tempat wisata satu ini.

Selain manikmati keasrian alam, kesejukan udara, dan fenomena alam api abadi, anda juga bisa menikmati dan membakar sendiri beberapa jagung yang bisa anda dapatkan dengan membeli dari warga sekita yang menjajakan jagung muda di sekitar lokasi.

Legenda Empu Supo

Sumber: Instagram @sayapurnama

Disebuah tempat manapun yang sudah ada sejak zaman dahulu, selalu menyimpan cerita-cerita turun termurun yang dipercayai oleh masyarakat sekittar.

Terlepas dari sebuah penelitian yang telah dilakkukan, wisata Kahyangan Api Bojonegoro juga menyimpan cerita-cerita mitos yang tlah dipercayai secara turun temurun.

Baca Juga:   Wisata Air Terjun Pengantin, mitos cinta abadi hingga kisah Eyang Galiman

Menurut legenda masyarakat pada zaman kerajaan Majapahit terdapat seorang empu yaang kala itu bertugas membuat alat-alat pusaka yang digunakan pada zaman dahulu, seperti keris dan berbagai pedang.

Empu tersebut bernama Empu Kriyo Kusumo, atau lebih dikenal dengan nama Empu Supo seorang empu yang pandai dalaam pembuatan senjata pusaka.

Di awal mulanya cerita ini adalah saat zaman dahulu si empu supo sedang melakukan sebuah pertapaan di tengah hutan. Sebagai penghangat, akhirnya empu Supo menyalakan api didekat tempay pertapaannya, hingga mulai itu beliau membuat peralatan-peralatan pusaka yang ditempa menggunakan api yang menyala tersebt.

Tak jauh dari lokasi api abadi terdapat sebuah sumur tua yang memiliki kedalaman sekitar dua meter. Penampakan sumur inipun sangat unik dimana air didalam sumur tersebut nampak sseperti sebuah air yang mendidih dengan menimbulkan bunyi “Blukutuk” namun keanehannya air dalam sumur tersebuut dingin dan tak teerasa seperti air panas yang mendidih.

Baca Juga:   3 Sentra kerajinan kayu jati di Bojonegoro, ukir Sukorejo jadi primadona

Hal tersebut dipercaya masyarakat sebagai tempau empu Supo untuk mendinginkan pusaka yang selesai ditempa. banyak pula kini masyarakat yang memanfaatkan sumur air yang tak pernah habis walau musim kemarau ini untuk pengobatan dari berbagai macam penyakit.

Tak jauh dari kedua tempat tersebut terdapat sepasang pohon besar dengan akar di permukaan yang membentuk pintu gerbang, masyarakat manyebutnya dengan gerbang nogosari. Diyakini pohon besar ini merupakan pintu masuk yang menghubungkan empu Supo dari lokasi pembuatan senjata dengan desa setempat.

Hingga kini masyarakat masih menggunakan tempat Kahyangan Api sebagai tempat upacara sakral seperti Acara Nyadran Desa, Ruwatan Masal, Wisuda Waranggono (sinden), hingga selapan atau tironan saat Jum’at Pahing.