oleh

Suprayitno Fajar Wicaksono, ingin jadi pelayan mahasiswa UNUGIRI kembangkan bakat

Berorganiasi melatih mental

-Headline, Kabar-125 Dilihat

Mahasiswa kini tak hanya dituntut untuk berlajar akademik, namun juga tentang organisasi. Sebab dalam organisasi, mahasiswa akan dapat belajar bagaimana berbicara dengan orang lain, menyelesaikan masalah dan memperbanyak silaturahmi.

Gambaran itu tercermin pada sosok Suprayitno Fajar Wicaksono. Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro banyak mengenyam berbagai organisasi. Kini ia tengah duduk di semerter 6 dan mengambil Prodi Teknik Informatika Fakutlas Sains dan Teknologi.

Cowok kelahiran tahun 2001 ini memulai masuk organisasi sejak masih duduk di bangku sekolah, tepatnya saat masih di Madrasah Aliyah Abu Darrin, Dander, Bojonegoro. Fajar kini tinggal di Sukorejo, Bojonegoro.

“Pertama saya nggak langusng ke organisasi, tapi belajar tentang manajemen yang baik di kelas,” ungkapnya saat ditemui di kawasan Pondok Pinang, Bojonegoro, akhir Mei 2022 lalu.

Setelah belajar bagaimana manajemen yang baik, Fajar memberanikan diri untuk ikut dalam OSIS. Bahkan banyak dari guru yang mendukung Fajar untuk mencalonkan diri sebagai ketua OSIS. Namun pada saat itu dirinya masih ragu, Fajar pun menolak dan lebih memilih menjadi Sekretaris OSIS.

“Tidak semua pimpinan itu mempunyai jiwa pemimpin, tapi juga banyak yang memiliki jiwa pemimpin tapi bukan seorang pimpinan. Oleh sebab itu belajar memimpin diri sendiri itu penting,” lanjut Fajar

Sejak masih sekolah, ia sangat tertarik dengan dunia organisasi. Saat sekolah di Abu Darrin, dirinya fokus pada tanggung jawabnya sebagai sekretaris OSIS. Di masyarakatpun sama, ia pernah menjadi ketua pelaksana dari kegiatan masyarakat di usianya yang masih muda.

Berorganisasi melatih mental

Dampak positif mengikuti organisas, menurutnya yakni dapat belajar memanajemen waktu, dan melatih mental. Sebab di dalam organisasi diharuskan memiliki mental yang kuat, apalagi saat berbicara di depan orang banyak. Melatih untuk berpendapat dan menerima pendapat orang lain dengan fikiran yang tenang juga dapat dilatih dengan ikut organisasi.

Organisasi, kata dia, juga merupakan sebuah wadah untuk pengembangan diri. Apalagi saat menjadi mahasiswa, sangat butuh pengalaman dan pengaturan waktu yang tepat. Sebab hidup di dunia ini harus tetap melangkah kedepan dan mendapatkan hasil dari pengembangan diri yang baik dan benar. “Ilmu itu bukan untuk ilmu tapi untuk diamalkan,” katanya.

Kini Fajar menjadi Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNUGIRI Bojonegoro periode 2022-2023. Ia memberanikan diri untuk maju menjadi presiden BEM bukan karena ingin dipuji dan dipandang tinggi, namun dirinya memiliki gagasan untuk menjadi pelayan bagi mahasiswa UNUGIRI dan mengembangkan bakat mahasiswa.

“Saat ingin menjadi pemimpin, jangan hanya karena pingin jadi pemimpin, namun juga harus punya gagasan, jika tak punya gagasan mending tidak saja,” ujarnya.

Ia juga pernah menjadi Ketua Rayon Hasyim Asy’ari, PMII Komisariat Unugiri Bojonegoro, tanggung jawab yang dipungkasnya saat semester 5 kemarin, ia adalah ketua rayon ke-2, atau yang pertama secara definitif.

“Karena waktu itu di fakultas saya baru berdiri setahun, maka rasanya banyak PR yang dilakukan, apalagi konteksnya mahasiswa, memiliki karakter dan kecerdasannya masing, dan itulah sedikit tantangannya” Ucapnya sambil sedikit tertawa.

Menjadi pemimpin itu harus punya gagasan yang jelas untuk membenahi apa yang belum tercapai di periode sebelumnya. Tugas utama pemimpin yakni mengetahui alur atau proses periode sebelumnya agar tak ada kekeliruan langkah yang dilewati.

Fajar mengatakan bahwa kampus UNUGIRI memiliki perjalanan yang panjang, sebab dulu ada dua perguruan tinggi yang ada dalam satu lokasi yakni UNUGIRI dan IAI Sunan Giri. Kini dua perguruan tinggi tersebut telah melebur menjadi satu yang bernama UNUGIRI.

Sebagai presiden BEM UNUGIRI, ia fokus yakni ideologisasi, soft skill, hard skill, era digital dan strategi isu. Ia berkeinginan jika nantinya mahasiswa UNUGIRI telah lulus, mereka akan memiliki kompetensi yang cukup untuk bersaing di dunia luar.

Manusia melewati tiga fase

Menurut dia, manusia itu melewati tiga fase. Yakni pertama manusia personal yaitu manusia dengan emosinya, egonya dan karakteristiknya namun dirinya hidup secara personal.

Fase kedua yakni komunal. Dalam fase ini manusia akan berkumpul dengan manusia lain seperti ikut dalam organisasi. Fase komunal akan membangun interaksi dan fikiran dari manusia sendiri.

Terakhir, fase ketiga yakni fase universal. Dalam fase ini, manusia dituntut untuk mementingkan sesamanya dari apapun.

“Banyak yang ikut dalam organisasi namun tak melakukan nilai-nilai organisasi itu sendiri. Contohnya dia paham hal kebaikan namun tak dilaksanakan. Mahasiswa yang ikut dalam organisasi adalah telah melakukan atau melewati jalan untuk berproses lebih baik lagi,” tutupnya.

Berita Terkait