Air Godokan Mbah Kung

Nikmat tiada tara

oleh

Penulis: Pak Ken

Suara mata kapak menghantam dan membelah beberapa batang pohon turi yang tumbang kemarin sore, saat hujan disertai angin kencang menyambangi kampung halaman kami. Pohon turi yang bunganya selalu dipetik oleh ibu itu akhirnya tergelatak di tanah, setelah kurang lebih 10 tahun ia terus tumbuh dan terus membesar. Mulanya, pohon turi itu tumbuh dengan sendirinya, secara alami, tidak ditanam. Pohon yang sudah menjulang setinggi antena TV itu, mengakar kuat di beranda rumah kami.

Pagi yang sudah menyetel sinar mentarinya kian panas itu, membelai lembut lengan pria berusia 72 tahun dengan kapak di tangannya. Mbah Kung, begitu biasanya saya memanggilnya. Dengan langkah yang tak terlalu akas, ia berjalan menuju pohon turi yang masih basah itu. Ia masih sempat melolos satu dua hisapan kretek yang terapit di antara bibirnya itu, dan lantas melemparkannya ke tanah.

Baca Juga:   Cara Mudah Backup Hingga Restore Chat dan Media WhatsApp di Google Drive

Ia pangkasi dulu beberapa ranting kecil sebelum akhirnya memotong-motong pohon turi itu menjadi beberapa bagian. Meski sudah ringkih, untuk memotong pohon turi dengan diameter 50 cm an itu, tak perlu membutuhkan waktu lama. Tiba-tiba, tubuhnya sudah mandi keringat. Kaos yang ia kenakan pun sudah kuyup, dan ia pun melepaskannya dan menaruhnya di atas sebatang pohon yang ia potong tadi.

Mbah Kung memang sudah tak bisa lagi disebut muda, namun semangatnya seperti tak pernah termakan usia. Kini, rambut putihnya nampak berkilauan saat mentari semakin beranjak. Dengan telanjang dada, Mbah Kung meraih satu persatu potongan batang pohon turi dan kemudian menumpuknya, untuk kemudian dibelah. Ya, batang-batang turi itu dimaksudkan untuk menjadi kayu bakar.

Baca Juga:   Sejarah singkat Bojonegoro dan nama-nama bupatinya, dari Mas Tumapel hingga Anna Mu’awanah

Di sebelah bekas pohon turi itu tumbuh, terlihat beberapa potong batang kayu turi yang diunggun rapi. Tinggal membelahnya satu persatu, menjadi bagian yang lebih kecil.
Mbah Kung, menjatuhkan dirinya di tanah yang masih terlihat basah karena embun. Nafasnya sedikit tersengal, Mbah Kung memilih untuk rehat sejenak dan menyulut sebatang sigaret kesayangannya.