oleh

Konsumsi Informasi Secukupnya Saja

Slow Living

-PERSPEKTIF-188 Dilihat

Pernah enggak iseng menghitung, berapa informasi yang ditelan otak kita setiap hari? Dari informasi yang remeh temeh hingga informasi yang sangat penting bagi hidup kita.

Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia atau APJII melakukan survei perilaku masyarakat Indonesia berinternet tahun 2021. Salah satu hasilnya, orang Indonesia berinternet selama 3-4 jam per hari. Itu hitungan rata-rata, yang dalam kebanyakan kasus bisa jadi lebih dari 4 jam.

Tersambung ke internet, membuat semua orang mudah mengakses informasi. Bahkan, juga memudahkan orang memproduksi informasi. Informasi (apapun itu), kemudian berseliweran lewat berbagai media. Baik media online hingga media sosial yang kemudian masuk ke wilayah sangat privat, lewat ponsel pintar.

Tanpa sadar, orang memang akan sangat mudah dicekoki informasi. Informasi kemudian menjadi sesuatu yang ‘terpaksa’ dikonsumsi oleh semua orang. Seakan-akan, jika tidak mengunyah informasi, kita tidak akan kenyang hari ini. Kita merasa tertinggal.

Sekarang era informasi, dan yang menguasai informasi akan menguasai dunia. Itu ya ada benarnya. Namun, sebagai netizen, apakah semua informasi perlu kita telan tiap hari, tiap jam, tiap menit?

Mengonsumsi informasi sebanyak-banyaknya, bukanlah jalan yang baik untuk menikmati hidup ini. Karena serakus-rakusnya kita akan informasi, tak akan bisa mengenyangkan.

Contoh simpelnya begini. Ada orang yang tiap jam mengupdate informasi tentang Ferdi Sambo, dia sangat hafal kronologi sampai analisa-analisanya. Akan tetapi, ketika orang itu profesinya sebagai guru, lalu apa manfaatnya? Apakah mengetahui sangat detail tentang Sambo akan menambah kualitas hidup kita?

Mencari informasi, bukanlah hal buruk. Akan tetapi, jika mengonsumsi informasi terlalu berlebihan, maka akan berpotensi ‘obesitas informasi’ yang kurang menyehatkan. Ada baiknya, mengonsumsi informasi disesuaikan dengan kebutuhan. Yang tentu saja, tiap orang perlu mengukur seberapa besar informasi yang dibutuhkan, dan informasi apa saja yang diperlukan bagi hidupnya.

Kini, sedang banyak diperbincangkan tentag ‘slow living’, yakni hidup yang sengaja diperlambat dan lebih mengutamakan kemandirian dan kualitas hidup. Maka, sudah saatnya juga kita mencoba menerapkan ‘slow information’, yakni mengonsumsi informasi secukupnya dan sesuai kebutuhan saja.

Salam urip selow…