Scroll untuk baca artikel
HeadlineKabar

6 Tokoh wanita dalam sejarah nasional Indonesia, jadi teladan

415
×

6 Tokoh wanita dalam sejarah nasional Indonesia, jadi teladan

Sebarkan artikel ini

Perjuangan besar melawan penjajah

Dalam sejarah kemerdekaan Republik Indonesia, tak hanya para pejuang laki-laki yang berperan dalam memerdekakan negara Indonesia. Melainkan para pejuang perempuan juga ikut ambil bagian dalam sejarah kemerdekaan Negara Indonesia ini.

Selain berjassa dalam berperang mengusir para penjajah, para tokoh perempuan Indonesia ini juga menjadi pahlawan khususnya dalam bidang sosial. Berkat semangat dan kegigihan para pejuang Indonesia, akhirnya negara ini bebas dari jajahan dan menjadi negara yang merdeka.

Berikut 6 di antara tokoh wanita dalam pergerakan nasional yang dirangkum dari berbagai sumber.

1. R.A Kartini

Sumber: Wikipedia

Lahir dari keluarga priyayi atau keturunan bangsawan jawa kala itu. Raden Adjeng Kartini lahir di Jepara 21 April 1879. Merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosodiningrat, seorang Bupati Jepara kala itu. Semantara ibunya Bernama, MA Ngasirah yang merupakan seorang anak kiai di Jepara

Perjuangan

Dalam kecerdasan dan kepintarannya dalam berbahasa Belanda membuat RA Kartini terus belajar. Meski dalam kondisi dipingit di rumah, ia sering menulis dan membaca serta berbalasan surat dengan sahabat penanya yang berasal dari Belanda salah satunya Bernama Rosa Abendanon. Dari situlah Kartini mulai timbul ketertarikan berpikir maju seperti perempuan Eropa.

Pada 12 November 1903 Kartini menikah dengan seorang Bupati Rembang dalam proses perjodohan dengan seorang Bernama KRM Adipati Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah memiliki tiga istri.

Beruntunglah suaminya kala itu mengerti ketertarikan Kartini sehingga medukung untuk membangun sebuah sekolah Wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor Kabupaten Rembang

Di tanggal 13 September 1904, Kartini melahirkan anak pertama sekaligus terkhir dengan nama Soesalit Djojoadhiningrat. Sebab setelah 4 hari kelahiran anaknya, Kartini meninggal dunia di usia 25 tahun pada 17 September 1904.

Usai kematian Kartini, surat-surat yang pernah ia buat lalu dikumpulkan dan diterbitkan dalam buku berjudul ‘Door Duisternis tot Licht’ atau Habis Gelap Terbitlah Terang oleh salah satu temannya di Belanda, Mr JH Abendanon, yang saat itu menjabat Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda.

2. Dewi Sartika

Sumber: Wikipedia

Biografi

Berasal dari keluarga Sunda yang ternama, yaitu R Rangga Somanegara dan R.A Rajapermas. Dewi Sartika lahir pada 4 Desember 1884 di Cicalenka. Semasa kecilnya saat selesai sekolah dan berkumpul bersama teman, ia selalu senang bermain dengan berperan menjadi seorang guru.

Baca Juga:   Perjuangan RA Kartini tak ada yang sia-sia

Sejarah Singkat

Setelah kematian ayahnya, ia tinggal bersama dengan pamanya, ia juga menerima pendidikan yang sesuai dengan budaya Sunda oleh pamannya, meskipum ia sudah pernah belajar mengenai pengetahuan budaya barat sebelumnya.

Pada tahun 1889 ia pindah ke Bandung dan pada 16 Januari 1904, ia mendirikan sebuah sekolah yang Bernama sekolah Isteri bertampat di pendopo Kaupaten Bandung. Pada tahun 1906 ia menikah dengan Raden Kanduruhan Agah Suriawinata yang merupakan guru di sekolah Karang Pamulang.

Pada tahun 1910 sekolah Isteri direlokasi ke jalan Ciguriang dan berubah nama menjadi Sekolah Kaoteamaan Isteri. Dalam sekolah tersebut ia mengajarkann pada para Wanita membaca, menulis, berhitung dan Pendidikan agama serta keterampilan.

Hingga tahun 1929 sekolah tesebut berkembang dengan pesat dan terdapat sekolah di tiap kota dan Kabupaten. Pada Semptember 1929, sekolah tersebut berganti nama menjadi sekolah Raden Dewi.

Pasca kemerdekaan, Kesehatan Dewi Sartika mulai menurun hingga pada 11 September 1947 Dewi Sartika Wafat dan dimakamkan di Tasikmalaya.

3. Martha Christina Tiahahu

Sumber: Wikipedia

Biografi

Martha Christina Tiahahu lahir 4 Januari 1800 di Abubu, Maluku. Ayahnya Bernama Kapitan Paulus Tiahahu adalah seorang kapitan dari negeri Abubu yang juga pembantu Thomas Matulessy dalam perang Pattimura pada tahun 1817 melawan belanda.

Sejarah Singkat

Keberanian Martha Christina Tiahahu dalam melawan tantara penjajah Belanda, di masa usia remajanya yang baru berumur 17 tahun. Pada tahun 1817, berkat kosekuennya dalam berperang membuat ia sangat terkenal di masyarakat luas.

Sebagi anak yang keras kepala, ia selalu ikut ambil bagian dan pantang mundur, dengan ciri rambut panjang teruai kebeakang serta berikat kepala pakai benang berwana merah, ia selalu ikut ayahnya dalam setiap pertempuran baik di pulau Nusalaut, pulau Saparua, maupun dalam perebutan kubu-kubu pertahanan.

Selain angkat senjata dalam medan pertempuran, Martha Christina Tiahahu juga memberi semangat pada kaum Wanita di wilayah-wilayah untuk ikut membantu pria dalam berperang. Itu juga yang membuat Belanda kewalahan menghadapi kaum Wanita saat itu.

Namun akhirnya karena tidak seimbang dalam persenjataan, tipu daya musuh dan penghianatan, akhirnya para tokoh pejuang banyak yang tertangkap dan menjalani hukuman. Hingga ayahnyapun tertangkap dan dihukum mati, membuat ia harus bergerilya ke hutan, hingga jatuh sakit.

Baca Juga:   Perjuangan RA Kartini tak ada yang sia-sia

Akhirnya pada 2 Januari 1818 Martha Christina Tiahahu menghembuskan nafas terakhir dan jenazah dikebumikan ke Laut Banda.

 

4. Cut Nyak Dien

Sumber: Wikipedia

Biografi

Sebagai pahlawan Nasional Cut Nyak Dien mendapat julukan Srikandi Indonesia karena kesetiaan dan cinta yang besar pada tanah air. Lahir di Lampadang, Kerajaan Aceh tahun 1848 lahir dari Teuku Nanta Setia dan ibu yang seorang bangsawan menjadikan perempuan ini menjadi cerita penting dalam sejarah perjuangan melawan Belanda.

Sejarah Singkat

Cut Nyak Dien berperang melawan Belanda pada masa perang Aceh. Namun setelah wiayah VI Mukim diserang, ia mengungsi sementara Ibrahim Lamnga suami dari Cut Nyak Dien terus bertempur melawan belanda hingga Wafaa pada tanggal 29 Juni 1878.

Hal tersebut membuat Cut Nyak Dien semakin larut dalam berperang melawan Belanda. Sejak kematian suaminya tersebut Cut Nyak Dien bersumpah untuk menghancurkan para penjajah.

Pada tahun 1880 Cut Nyak Dien menikah dengan Teuku Umar. Dan setelahh pernikahanya tersebut membuat semnagat juang Cut Nyak Dien menjadi menggebu-gebu.

Mereka bersama berperang melawan Belanda. Namun, pada 11 Februari 1889 Teuku Umar harus gugur, dan membuat Cut Nyak Dien harus berjuang sendiri Bersama kelompok kecilnya diusia serta kondisi tubuh yang memburuk.

Hingga akhirnya Cut Nyak Dien ditangkap oleh pasukan Belanda atas laporan salah satu anggota pasukannya dan dibawa ke Banda Aceh. Keberandaan Cut Nyak Dien yang dianggap masih memberi pengaruh kuat terhadap rakyat Aceh membuat ia diasingkan ke Sumedang. Hingga pada 6 November 1908 Cut Nyak Dien wafat dan dimakamkan di Gunung Puyuh Sumedang.

 

5. Nyi Ageng Serang

Sumber: Wikipedia

Biografi

Perempuan kelahiran tahun 1752 memiliki nama asli Raden Ajeng Kustiah Walaningsih Retno Edi. Wanita kelahiran Serang ini merupakan anak dari pangeran Natapraja, penguasa wilayah serang yang merupakan bagian dari kerajaan Mataram.

Sejarah Singkat

Meskipun anak dari Bangsawan Nyi Ageng Serang terkenal baik dn dekat dengan masyarakat, hingga ia sampai berumur dewasa. Ia tampil menjadi salah satu panglima perang untuk mellawan penjajah Belanda.

Baca Juga:   Perjuangan RA Kartini tak ada yang sia-sia

Keahlian dan kemahirannya dalam krida perang, membuat Nyi Ageng Serang mengikuti pelatihan perang Bersama dengan para prajurit pria. Perempuan yang merupakan keturunan dari Sunan Kalijaga ini juga menciptakan keturunan seorang pahawan nasional ernama Ki Hajar Dewantara.

Di salah satu cerita sejarah Nyi Ageng Serang berperan penting dalam awal Perang Diponegoro pada tahun 1825. Saat itu Nyi Ageng Serang yang berusia 73 tahun memimpin pasukan untuk mebantu Pangeran Diponegoro melawan Belanda menggunakan tandu. Tak hanya ikut berperang ia juga sebagai penasehat perang di beberapa daerah. Hingga akhirnya Nyi Ageng Serang wafat di Yogyakarta pada tahun 1826 dan dimakamkan di Kalibawang.

6. Cut Nyak Meutia

Sumber: Wikipedia

Biografi
Lahir dii Aceh pada 15 Februari 1870 Cut Nyak Meutia merupakan putri satu-satunya dari pasangan Teuku Ben Daud dan Cut Jah. Merupakan anak dari keturunan Minangkabau asa Sijunjung, Sumatra Barat.

Sejarah Singkat

Lahir dari anak seorang ulama dan pemimpin pemerintahan di daerah Pirak saat itu. Menikah sebanyak tiga kali Cut Nyak Meutia pertama kali turun daam dunia perang melawan Belanda dengan suami keduanya.

Pada tahun 1899, Chik Muhammad yang merupakan suami kedua dari Cut Nyak Meutia memimpin pasukan melawan Belanda. Hingga pasukan Belanda kewalahan, namun di tahun berikutnya Chik Muhammad Bersama pasukan tak lagi bergerak.

Mengira sudah kehilangan semangat untuk melakukan perlawanan. Pada tahun 1901 Chik Muhammad Kembali melakukan serangan secara mendadak sehingga menag dan atas kemenangan Chik Muhammad di angkat menjadi Bupati Keureutoe.

Namun pada tahun 1905 Chik Muhammad ditangkap dan ditembak mati oleh pasukan Beanda. Dan hal tersebut membuat Cut Nyak Meutia dan Pang Nanggroe bahu membahu mewalan Belanda. Hingga pada 26 September 1910 Pang Nanggroe tewas dalam pertempuran dan kepemimpinan dilanjutkan oleh Cut Nyak Meutia dengan 45 orang pasukan dan 13 senjata.

Namun, pada 24 Oktober 1910, Cut Nyak Meutia tertangkap oleh pasukan Belanda di persembunyiaannya di Paya Cicem. Cut Nyak Meutia manolak untuk ditangkap dan disaat penolakan tersebut ia ditembak pada bagian kepala dan dada.