Huluhilir.com – Tanaman kopi identik tumbuh dan berbuah di daerah pegunungan atau dataran tinggi. Namun di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur telah terbukti ada budidaya kopi dataran rendah yang juga bisa hidup bahkan berbuah.
Berawal dari inisiatif Lilik Budi Witoyo yang mencoba membuat kebun kopi di lahan miliknya dengan luas 250 meter persegi di Desa Tlogohaji, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro.
Dimulai pada 2018 dengan mengolah lahan, dengan memperbanyak kompos dari bahan organik yang ada di sekitar rumah, sampai akhir 2019 sudah menanam sekitar 150 pohon kopi dengan 4 varietas, yakni robusta, liberika ekselsa, dan arabika. Pada tahun 2022, dengan tanaman berusia sekitar 4 tahun, akhirnya berhasil panen untuk dinikmati dan dikembangkan lagi.
“Untuk awal panen bisa mendapatkan 1 kilogram kopi per pohonnya. Sedangkan jika sudah maksimal bisa mencapai 3 kiligram kopi. Satu tahun bisa panen sampai 3 kali,” kata Budi.
Berhasil membudidayakan tanaman kopi di dataran rendah dengan tantangan yang tak mudah, akhirnya Budi menemukan Standar Operasional Prosedur (SOP) atau pedoman untuk suksesnya budidaya tersebut yang terus dilakukannya hingga sekarang di Tlogohaji. Dengan SOP tersebut, kini budidaya kopi dataran rendah dikembangan di kawasan Kokobo Dander Forest, tepatnya berada di sebelah wisata andalan Kabupaten Bojonegoro, Dander Waterpark. Meski berada sebelahan, namun tidak saling terkait. Kokobo berdiri sendiri.
“Keberhasilan di Tlogohaji yang masih berjalan sampai sekarang, kita bawa SOP-nya ke Kokobo Dander Forest untuk dijadikan laboratorium kopi dataran rendah Kabupaten Bojonegoro. Di sini sudah tertanam 4.500 tanaman kopi dengan 4 varietas yakni robusta, liberika ekselsa, dan arabika. Targetnya bisa sampai 15.000 tanaman kopi,” imbuhnya.
Pengelolaan kebun kopi di Tlogohaji dan Kokobo, Budi mempercayakan kepada Hadip Mutohar, atau akrab disapa Mas Ngadi. Pengeloaan meliputi pembibitan, penanaman, pengendalian gulma, pemupukan kompos organik dan anorganik, pengendalaian hama, hingga panen.
“Di sini yang sudah berbuah robusta, liberika, dan arabika. Masih menunggu ekselsa,” kata Ngadi.
Menurutnya, perbedaan di Tlogohaji dan Kokobo beda, dari sisi cadangan air. Di Tlogohaji jauh dari sumber air, sehingga perawatannaya butuh ekstra. Sedangkan di Kokobo mudah mendapatkan air karena ada sumbernya. Hal itu yang membuat optimis, di kawasan tersebut mempunyai potensi besar dan produktif,” imbuhnya.
Ngadi menambahkan, selain menanam pohon kopi, saat ini juga sudah disapkan pohon peneduh, yakni alpukat dan durian. Pohon penaung diperlukan agar tanaman kopi tidak langsung terpapar sinar matahari.
“Semua konsep dari Tlogohaji kami aplikasikan di Kokobo untuk dijadikan laboratoriym penelitian. Dengan SOP diterapkan di sini, ditambah dengan pengembangan sesuai dengan fasilitas dan kondisi di sini, harapannya ada SOP baru sesuai dengan hasil pengembangan, agar pengelolaan kopi dataran rendah lebih optimal,” harapnya.












