HijauPerspektif

Saatnya Hidup dengan Manajemen Hijau

152
×

Saatnya Hidup dengan Manajemen Hijau

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi by AI

Bergenerasi-generasi, masyarakat hidup menyatu dengan alam. Sungai, batu, tumbuhan, hewan, dan semuanya dipandang sebagai teman sekaligus berfungsi membantu mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Saya masih ingat, sewaktu saya kecil, tanaman-tanaman sekitar rumah adalah tanaman konsumsi alias bisa dimakan.

Sebut saja kemangi, daun lumbu, pepaya, pisang, terong, cabai, dan lainnya. Bahkan, “pagar” rumah adalah tanaman yang bisa dimakan, seperti luntas dan kenikir. Pohon kelapa yang berjajar di samping rumah, buahnya diolah sendiri untuk minyak goreng.

Seiring waktu, eksploitasi alam meluas. Jika dulu hanya dilakukan perusahaan dan negara, kini makin meluas ke individu-individu. Cara hidup telah berubah. Konsumsi telah berubah. Alam dipandang menjadi obyek yang tak henti dieksploitasi. Dampaknya pemanasan global, perubahan iklim, dan ancaman-ancaman terhadap bumi serta kelangsungan hidup makhluk.

Penyerapan teori manajemen dalam kaitan ini menjadi hal penting yang mengubah arah. Penerapannya kemudian berkelindan dengan eksploitasi yang makin terarah. Konsep manajemen dikembangkan oleh Frederick Taylor (1856-1915). Setelah revolusi industri, Taylor mengemukakan teori manajemen. Ia pun didapuk sebagai Bapak Manajemen. Kata kuncinya adalah efisiensi dalam meningkatkan produksi. Manusia dilihat dari produksinya, berapa lama bekerja, biaya alatnya dan sebagainya.

Singkatnya, manajemen inilah yang kemudian membersamai masyarakat modern dalam setiap gerak ekonomi, sosial, politik dan seterusnya. Manajemen adalah modernitas. Sayangnya manajemen ini dilandaskan pada semangat kapitalisme, yang mengeksploitasi secara besar-besaran demi hanya mendapatkan keuntungan materi.

Nah, jika di sudut lain ada manajemen kapitalisme, maka di sudut lain ada manajemen hijau (green management). Kata kunci dari manajemen hijau adalah semangat keberlanjutan masa depan. Jadi, stop eksploitasi yang berorientasi hanya untuk keuntungan.

Menurut buku Manajemen Hijau (2023), yang ditulis oleh Mulyani Karmagatri, dkk., konsep ini adalah pengintegrasian kepedulian lingkungan ke dalam seluruh proses pengambilan keputusan, mulai dari perencanaan hingga evaluasi. Ini adalah tentang bagaimana kita menyeimbangkan antara kebutuhan manusia, profitabilitas, dan kesehatan bumi.

Secara singkat, saya akan mencoba menunjukkan manajemen hijau pada beberapa level.

  1. Individu: Lebih dari Sekadar Gaya Hidup

Bagi individu, manajemen hijau adalah bentuk “akuntabilitas pribadi” terhadap alam. Mempraktikkan manajemen hijau dalam skala rumah tangga—seperti pengelolaan sampah, efisiensi energi, hingga pemilihan produk ramah lingkungan—berdampak langsung pada kualitas hidup.

Pada level individu ini, manajemen hijau akan berdampak pada cara hidup masing-masing orang yang berorientasi pada pelestarian alam. Semisal kegemaran menanam, mengolah sampah, hemat listrik, dan lain sebagainya.

Dan ternyata dalam beberapa literatur psikologi lingkungan, individu yang menerapkan prinsip hijau cenderung memiliki tingkat stres yang lebih rendah dan kepuasan hidup yang lebih tinggi karena merasa berkontribusi pada kebaikan kolektif.

Pada masa silam, kita sebenarnya mengenal karangkitri pada keluarga jawa. Konsep ini adalah memanfaatkan pekarangan rumah untuk swasembada pangan. Tradisi hidup sederhana dengan memanfaatkan alam sekitar. Keberadaan budaya karangkitri menjadi cerminan bagaimana individu dalam sebuah keluarga memandang alam.

  1. Perusahaan: Investasi Menuju Keberlanjutan

Bagi dunia usaha, manajemen hijau adalah strategi untuk bertahan hidup di masa depan. Perusahaan yang mengabaikan faktor lingkungan kini mulai ditinggalkan oleh investor dan konsumen. Berdasarkan buku Manajemen Hijau, penerapan Green MarketingGreen Human Resources, dan Green Supply Chain terbukti mampu meningkatkan keunggulan kompetitif.

Ada beberapa keuntungan konkret bagi perusahaan meliputi:

  • Efisiensi Operasional: Pengurangan limbah dan penghematan energi secara otomatis menurunkan biaya produksi.
  • Citra Merek (Branding): Konsumen milenial dan Gen Z cenderung memilih brand yang memiliki nilai etis dan ramah lingkungan.
  • Kepatuhan Regulasi: Perusahaan yang sudah menerapkan manajemen hijau lebih siap menghadapi aturan lingkungan yang semakin ketat.
  1. Pemerintah: Menjaga Warisan Masa Depan

Pemerintah memegang peran sentral sebagai dirigen dalam simfoni manajemen hijau. Melalui green governance, pemerintah bertugas menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan ekonomi tanpa merusak alam. Ini dilakukan melalui kebijakan insentif bagi industri bersih dan penegakan hukum bagi perusak lingkungan.

Manajemen hijau di tingkat pemerintahan berfokus pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Tanpa manajemen yang hijau, pembangunan hanya akan menjadi pertumbuhan semu yang biayanya harus dibayar mahal oleh generasi mendatang akibat bencana ekologi.

Sebagai sebuah kesimpulan dari tulisan pendek ini adalah bagaimana kita menanamkan kesadaran pada diri sendiri dan lingkungan sekitar akan pentingnya manajemen hijau. Manajemen ini bukanlah sekedar slogan yang hanya berada di permukaan semata. Melainkan harus menjadi paradigma berpikir dan bertindak dengan meyakini bahwa keberlanjutan menjadi kunci untuk merawat kehidupan ini.

Penulis adalah founder Sekolah Menulis Mastumapel