Edukasi

Koran dan Cerita di Waktu Jeda

185
×

Koran dan Cerita di Waktu Jeda

Sebarkan artikel ini
ILustrasi gambar koran by Gemini

Informasi kini hadir tanpa jeda dan tanpa jarak. Menyelusup ke ruang paling pribadi, tanpa permisi. Kini, informasi tak perlu dicari, ia datang bak tsunami. Jika dulu, orang berlomba memperoleh sebanyak-banyaknya informasi, kini orang berlomba menyeleksi informasi. Kini tren orang melakukan diet informasi. Tujuannya jelas: sehat jiwa dan raga.

Dan memang, tak selalu informasi baik untuk pikiran kita. Mengonsumsi infomasi itu sama dengan mengonsumsi makanan dan minuman. Anda boleh percaya boleh tidak. Jadi, jika salah mengonsumsi, akan berdampak buruk juga bagi kita.

Ada sekian tips dan trik diet informasi. Dan saya hendak sharing satu cara diantara sekian banyak cara. Yakni membaca koran edisi weekend (Dulu edisi Minggu, tapi kini Kompas tidak terbit di hari Minggu, sedang Jawa Pos menyajikan cerpen, esai, dan puisi di hari Sabtu).

Sudah sejak sekitar 10 tahun, saya berlangganan koran edisi weekend. Kompas dan Jawa Pos. Dulu, sempat sesekali Koran Tempo dan Republika, sebelum kedua media tersebut menghentikan edisi cetak. Dan seiring waktu, saya hanya membeli koran Kompas dan Jawa Pos di hari yang ada cerpen dan resensi bukunya. Jawa Pos di hari Sabtu dan Kompas di hari Minggu. Namun, sejak 4 Januari 2026, Kompas Minggu tak lagi terbit, sehingga saya pun akhirnya membeli Kompas Sabtu.

Mungkin Anda yang tinggal di kota, membeli koran bukan hal sulit. Tapi, bagi saya yang tinggal jauh dari kota (termasuk kota kecamatan), mendapatkan koran memerlukan trik. Setidaknya memerlukan strategi.

Jarak rumah dengan kota kecamatan sekitar 15 km. Dulu, ketika Sabtu dan Minggu, saya akan ke pasar kecamatan antara pukul 09.00 WIB hingga 10.00 WIB. Di jam-jam itulah penjual koran keliling (loper koran) sampai di seputar pasar kecamatan. Loper koran itu adalah satu-satunya. Ia naik motor Honda c70 warna merah (kini sudah ganti Honda Kharisma). Lantaran dia tidak mempunyai akun WhatsApp, maka saya memilih untuk menunggunya di warung kopi. Saya memesan kopi cangkir seharga Rp 3.000 (kini Rp 4.000), sambil sesekali melihat ke jalan raya, khawatir dia lewat tanpa saya ketahui.

Jika kebetulan waktunya longgar, dia saya ajak mampir di warkop. Ia biasa memesan teh panas. Sambil berkeluh kesah “Pelangganku makin sedikit. Waktu pandemi covid, banyak yang meninggal, anak-anak mereka dah tidak lagi mau langganan koran. Jadi pelanggan terus berkurang,” katanya.

Lain waktu ia bercerita “Aku sekarang jualan camilan juga. Lumayan untuk tambahan pendapatan. Kalau jual koran saja, tidak cukup untuk keluarga,” terangnya. Di motornya terlihat banyak camilan seperti keripik, kacang, dan lain sebagainya. Kini, ia kini bersyukur, kesibukannya bertambah, menjadi tukang parkir di sebuah rumah makan dekat jembatan. Rumah makan itu ramai pembeli.

Saya dan loper koran ini sudah begitu akrab. Seperti kawan karib. Sohib.

Sejak lima tahun terakhir, strategi memperoleh koran pun telah saya ubah. Jika dulu saya menunggu di warung kopi, kini koran saya minta dititipkan ke lapak penjual burung kicau. Beruntung mas penjual burung tak keberatan saya repoti. Tiap weekend, koran akan ditaruh di lapak burung kicau, dan di hari lain (kadang hingga jumat berikutnya) koran saya ambil. Uang beli koran saya titipkan ke penjual burung. Untuk koran Jawa Pos dan Kompas masing-masing 1 eksemplar, saya membayar Rp 15.000 untuk dua eksemplar. Sebagai “kompensasi” saya nitip uang, saya membeli ulat pakan burung. Jika dipikir-pikir, ternyata ribet juga untuk mendapatkan koran minggu. Tapi, karena suka jadi, strategi itu tidak saya anggap merepotkan.

Kini, Jawa Pos edisi Sabtu dan Kompas edisi Sabtu menemani hari-hari membaca. Karena koran tersebut, ternyata saya baca tak hanya di hari itu saja, tapi sepanjang waktu. Koran weekend tak akan basi, apalagi rubrik-rubrik favorit seperti cerpen, puisi, buku, dan features-features yang selalu inspiratif.

Dan ternyata, setelah saya ingat-ingat, membaca koran atau majalah telah menjadi kebiasaan lama. Berawal waktu kecil dibelikan majalah Bobo oleh ibuk saat diajak pergi ke sebuah pasar besar di kabupaten tetangga. Saya masih ingat betul, majalah itu sampai lusuh karena saya baca berulang-ulang.

Dan waktu kuliah (1997-2002), saya dan teman-teman patungan berlangganan Kompas. Bahkan pada 2004, waktu tinggal di Gresik, saya berlangganan Kompas dengan meminjam Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) demi mendapatkan diskon. Dan sejak saat itulah, membaca koran seperti sebuah keharusan, sebuah ritual yang jika tidak melakukan seperti ada yang kurang dalam keseharian. Istri pun sudah hafal kebiasaan weekend ini. Kadang, saya menyempatkan ke pasar kecamatan yang berjarak 15 km hanya untuk pulang membawa koran.

Oh ya, pernah suatu kali, ketika koran sudah saya peroleh, saya simpan di tas slempang kecil. Siang itu hujan sudah reda, jalanan agak basah. Motor melaju pelan, dan apes, saat hendak sampai rumah, saya melihat tas kosong. Koran Kompas dan Jawa Pos raib. Pasti jatuh. Saya pun putar balik, yakin kalau koran jatuh jarang ada minat mengambil. Beda jika yang jatuh adalah uang atau barang lain. Dan ternyata benar, koran masih teronggok di tengah jalan, bekas terlindas roda motor. Saya berhenti, koran saya ambil. Sesampai di rumah, koran saya jemur sebentar agar layak baca.

Selamat membaca koran!