Huluhilir.com – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terus mempercantik diri melalui penataan ruang publik yang berbasis lingkungan. Tidak hanya berfokus di pusat kota, pembangunan kini merambah ke wilayah pinggiran dengan rencana pembangunan lima taman perbatasan yang akan menjadi “wajah baru” sekaligus Ruang Terbuka Hijau (RTH) di titik-titik strategis.
Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, menegaskan bahwa proyek ini memiliki misi besar di balik sekadar estetika. Taman-taman ini dirancang sebagai simbol keramahan masyarakat Bojonegoro dalam menyambut pendatang, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem melalui penanaman pohon secara masif.
“Taman-taman ini adalah simbol kebanggaan kita bersama. Ini menjadi bukti nyata bahwa pembangunan di Bojonegoro dilakukan secara merata hingga ke pelosok perbatasan,” ujar Setyo Wahono.
Gerbang Ikonik di Lima Penjuru
Pembangunan taman ini juga berfungsi sebagai pintu masuk (gate) kabupaten agar tampil lebih representatif dan ikonik. Adapun lima lokasi yang menjadi prioritas pembangunan taman perbatasan tersebut meliputi:
- Sisi Selatan: Taman Perbatasan Gondang – Nganjuk.
- Sisi Barat Daya: Perbatasan Margomulyo – Ngawi.
- Sisi Tenggara: Taman Perbatasan Kedungadem – Lamongan.
- Sisi Barat: Taman Perbatasan Padangan – Cepu (Blora).
- Sisi Timur: Taman Perbatasan Baureno – Babat (Lamongan).
Langkah ini diambil untuk memperluas cakupan RTH di Bojonegoro. Selain memberikan suplai oksigen dan keasrian, kehadiran taman-taman ini diharapkan mampu mengubah persepsi publik terhadap Bojonegoro.
Jika selama ini Bojonegoro identik dengan predikat “daerah penghasil migas”, ke depan kabupaten ini diharapkan lebih dikenal sebagai daerah yang sangat peduli terhadap kelestarian lingkungan dan kenyamanan publik.
“Saya berharap masyarakat ikut menjaga kebersihan dan fasilitas yang ada. Mari kita tunjukkan bahwa Bojonegoro adalah kabupaten yang bersih, indah, dan membanggakan,” pungkas Bupati.












