Huluhilir.com – Tepat pada 20 Februari 2025, Setyo Wahono dan Nurul Azizah resmi dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Bojonegoro. Kini, setahun sudah keduanya menakhodai kabupaten berjuluk Bumi Angling Dharma ini. Bukan sekadar seremonial, setahun perjalanan ini menjadi ajang pembuktian janji politik untuk membawa Bojonegoro lebih “Bahagia, Makmur, dan Membanggakan.”
Di bawah kepemimpinan Wahono-Nurul, arah pembangunan Bojonegoro tak lagi hanya fokus pada megahnya bangunan fisik, tapi juga menyentuh aspek paling mendasar: kesejahteraan manusia. “Pembangunan tidak hanya terlihat secara fisik, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga,” ungkap Kepala Bappeda Bojonegoro, Achmad Gunawan.
Lantas, apa saja hasil nyata selama setahun terakhir? Mari kita bedah lima fokus utama pencapaian mereka:
1. Memangkas Angka Kemiskinan Hingga ke Dapur Warga
Bagi Wahono-Nurul, data kemiskinan bukan sekadar angka di atas kertas, tapi nyawa yang harus dibantu. Hasilnya nyata: angka kemiskinan yang semula 11,69% (2024) turun menjadi 11,49% di tahun 2025. Targetnya, tahun 2026 angka ini bisa ditekan hingga ke level 10,55%.
Strateginya cukup unik dan menyentuh langsung ke masyarakat bawah. Mulai dari program Gayatri (Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri), pemberian makan dua kali sehari bagi lansia sebatang kara, hingga bantuan kolam lele keluarga (Kolega). Tak lupa, rumah-rumah warga yang reyot kini diperbaiki melalui program rehabilitasi RTLH agar lebih layak huni.
2. Indeks Pembangunan Manusia (IPM): Semakin Cerdas dan Sehat
Kualitas hidup warga Bojonegoro terus naik kelas. IPM Bojonegoro merangkak naik dari 72,75 menjadi 73,74 di tahun 2025. Kuncinya ada pada pendidikan dan kesehatan.
Di sektor pendidikan, anggaran beasiswa melonjak dari Rp 35,3 miliar menjadi Rp 40,4 miliar di tahun 2026. Ribuan anak muda kini bisa bermimpi jadi sarjana lewat program Beasiswa Scientist hingga “10 Sarjana per Desa”. Di sisi kesehatan, Bojonegoro sukses meraih penghargaan UHC Award Kategori Madya, yang menjamin hampir seluruh warga terlindungi layanan kesehatan gratis lewat JKN.
3. Ekonomi Menggeliat, Lumbung Pangan Menguat
Bojonegoro kini semakin mengukuhkan diri sebagai lumbung pangan nasional. Di tahun 2025, produksi gabah naik drastis sebesar 24,7%, mencapai 886 ribu ton. Capaian ini membuat Bojonegoro menjadi produsen padi terbesar kedua di Jawa Timur.
Tak hanya tani, sektor UMKM juga tumbuh subur dengan kenaikan 3% setiap tahunnya. Kini ada lebih dari 91 ribu pelaku usaha lokal yang terus didorong untuk naik kelas. Kerennya lagi, neraca perdagangan Bojonegoro tetap surplus, menandakan produk lokal kita punya daya saing tinggi di pasar ekspor.
4. Pengangguran Berkurang Melalui Keahlian
Mencari kerja memang tantangan, tapi Pemkab Bojonegoro tak tinggal diam. Melalui berbagai pelatihan kerja (vokasi), ribuan warga kini memiliki skill yang dibutuhkan industri.
Datanya bicara: tingkat pengangguran terbuka turun dari 4,42% menjadi 3,90% di tahun 2025. Sebanyak 3.030 peserta pelatihan kini sudah resmi bekerja di berbagai sektor, baik formal maupun informal. Ini membuktikan bahwa investasi dan pelatihan kerja berjalan beriringan.
5. Jalan Mulus, Jembatan Terhubung Hingga Pelosok
Warga kini bisa lebih cepat bepergian dan mengangkut hasil tani berkat pembangunan infrastruktur yang masif. Sepanjang tahun 2025, Pemkab sukses menuntaskan 27 ruas jalan kabupaten dengan rigid beton (jalan cor) sepanjang 33 kilometer.
Bukan hanya jalan, sebanyak 262 titik jembatan telah diperbaiki dan dirawat. Melalui kucuran dana bantuan desa (BKKD) sebesar Rp 651 miliar, urat nadi ekonomi di desa-desa kini semakin lancar. Konektivitas ini diharapkan mampu memangkas biaya logistik sehingga harga-harga barang di pelosok lebih stabil.












