Huluhilir.com – Halaman rumah warga Bojonegoro kini tak lagi sekadar lahan kosong. Di sudut-sudut pekarangan, kepakan sirip ikan lele mulai menjadi pemandangan rutin yang mendatangkan rupiah. Lewat program KOLEGA (Kolam Lele Keluarga), Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menyulap aset rumah tangga menjadi mesin ekonomi produktif.
Program besutan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) ini bukan sekadar bantuan cuma-cuma. “KOLEGA dirancang agar masyarakat bisa langsung tancap gas memulai usaha budidaya skala rumahan,” ujar M. Cholilur Rohman, Kabid Perikanan Disnakkan Bojonegoro.
Jejak Sukses 2025
Tahun lalu, sebanyak 414 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) telah merasakan dampaknya. Bantuan disalurkan dalam paket lengkap: kolam, benih, pakan berkualitas, hingga probiotik.
- Model Buis Beton: Sebanyak 134 KPM menerima paket kolam beton yang terintegrasi dengan penampung air hujan.
- Model Terpal Bundar: Sebanyak 280 KPM mengelola kolam diameter 2 meter. Hasilnya luar biasa; satu kolam bisa menampung hingga 2.000 ekor benih lele.
Agar tak sekadar “tebar benih lalu mati”, Pemkab memberikan bekal ilmu. Para penerima wajib mengikuti bimbingan teknis (Bimtek) bersama pakar perguruan tinggi dan praktisi sukses. Pendampingan lapangan pun dilakukan secara kontinu untuk memastikan lele tumbuh sehat hingga masa panen tiba.
Target 2026: Lebih Luas, Lebih Masif
Memasuki tahun 2026, suntikan semangat KOLEGA kembali berlanjut. Targetnya adalah 335 KPM baru dengan skema yang jauh lebih progresif.
Untuk model kolam terpal, skalanya diperbesar. Jika sebelumnya hanya 2 unit, tahun ini setiap keluarga akan mengelola 3 unit kolam dengan kapasitas total 3.000 ekor benih. Pakan yang disediakan pun ditambah menjadi total 300 kg per paket guna menjamin lele mencapai ukuran konsumsi yang optimal.
Sementara itu, untuk model buis beton, 135 keluarga akan mendapatkan sepasang kolam beton lengkap dengan 500 ekor benih dan suplai pakan yang mencukupi.
Gizi dan Tambahan Penghasilan
Bagi Pemkab Bojonegoro, KOLEGA adalah strategi “dua mata pisau”. Pertama, menjamin kebutuhan protein keluarga terpenuhi (gizi anggota keluarga meningkat). Kedua, membuka keran penghasilan tambahan tanpa harus keluar rumah.
“Harapannya, lele-lele ini tidak hanya berakhir di penggorengan dapur sendiri, tapi berkembang menjadi sumber bisnis baru bagi masyarakat,” pungkas Cholil.
Kini, warga Bojonegoro tak hanya menjadi penonton pembangunan, tapi aktor utama yang berdaya dari halaman rumah sendiri.












