Huluhilir.com – Pandemi covid-19 memukul banyak pelaku usaha. Tak banyak yang kemudian mampu bangkit. Namun, Yanto Sablon (kini menjadi Yanto Garment and Printing House) tak sekedar bangkit, tapi mampu mengembangkan usaha. Kini menjadi pelaku usaha garment yang printing terpercaya di Kabupaten Bojonegoro. Bahkan, ada rencana melebarkan sayap dengan membuka garment di Surabaya.
Dalam sebuah talkshow radio Bincang IKM yang digelar Radio Malowopati FM dan dipandu host Iwan Siswoyo, Kamis (26/2/2026), Rahman pengelola Yanto Garment and Printing House, berbagi cerita jatu bangun mengelola bisnis. Cerita bisnis yang sangat inspiratif, terutama bagi anak-anak muda yang hendak membuka usaha atau mengembangkan usaha.
Berdiri sejak tahun 1994 dengan nama awal Yanto Sablon, usaha ini bermula dari tangan dingin Suryanto. Kini, tongkat estafet kepemimpinan berpindah ke tangan generasi kedua. Rahman adalah salah satu pengelolanya. Sebagai generasi kedua, Rahman menyadari bahwa setia pada satu jenis layanan saja tidaklah cukup untuk menjawab tantangan zaman. Ia pun melakukan transformasi besar: mengubah wajah sablon rumahan menjadi rumah produksi garmen dan percetakan modern yang adaptif terhadap tren pasar.
“Kami harus berani berspekulasi dan membuat pola usaha baru. Dulu hanya fokus di sablon, sekarang kami kembangkan ke percetakan dan bordir komputer,” ungkap Rahman.
Fokus utama kini bergeser pada konveksi bordir untuk berbagai seragam, mulai dari baju dinas hingga jas almamater. Menariknya, Yanto Garment tidak hanya membidik lembaga-lembaga besar, tetapi juga menyediakan ruang bagi pelajar dan mahasiswa yang ingin mewujudkan desain seragam OSIS atau komunitas mereka sendiri dengan sentuhan personal.

Namun, perjalanan menuju kesuksesan ini tidaklah mulus dan lurus. Pandemi Covid-19 sempat memberikan hantaman keras hingga keuangan menyentuh angka minus. Di titik terendahnya, Yanto Garment mengambil keputusan berisiko tinggi: menjual aset untuk menambah modal kerja. Dari sana, ia belajar arti penting “dana cadangan” (saving) untuk mengantisipasi badai yang tak terduga. Tak hanya pandemi, ia juga pernah mencicipi pahitnya kerugian besar dalam sebuah proyek pengadaan seragam. “Kami berani ambil risiko karena yakin mampu, dan alhamdulillah kami bisa bangkit dengan belajar dari kesalahan tersebut,” kenangnya.
Kini, strategi pemasaran Yanto Garment and Printing House telah merambah dunia digital. Berawal dari konsistensi mengunggah konten di status WhatsApp dan Facebook, pesanan pun mulai berdatangan dari luar daerah hingga luar pulau. Kuncinya terletak pada kualitas dan layanan purna jual. Rahman tidak menutup mata terhadap kritik; ia memberikan garansi after-sale, menyediakan layanan free ongkir, hingga pemberian cashback untuk menjaga loyalitas pelanggan. Bahkan, meski kini sudah berkembang pesat, mereka tetap melayani pemesanan kaos satuan, sebuah komitmen untuk tetap dekat dengan pelanggan retail.
Melihat pertumbuhan yang stabil, Rahman kini tengah bersiap mengepakkan sayap lebih lebar dengan rencana ekspansi ke Surabaya. Baginya, bisnis garmen bukan sekadar usaha musiman, melainkan kebutuhan berkelanjutan yang menuntut mental baja. Ia pun membuka pintu lebar-lebar bagi siswa SMK untuk magang di tempatnya, membagikan ilmu bahwa modal utama usaha bukanlah uang semata, melainkan kemauan untuk terus mengasah skill dan belajar dari literatur maupun kawan.
“Jangan terlalu berekspektasi tinggi untuk untung terus, karena pasti ada jatuh bangunnya. Yang terpenting adalah kuat mental dan jangan mudah kecewa. Awali dari hal-hal yang ringan, pelajari bidang yang digeluti, dan bersainglah secara sehat,” pungkas Rahman memberikan pesan bagi para perintis usaha muda di Bojonegoro.












