Huluhilir.com – Kabupaten Bojonegoro kembali mengukuhkan posisinya sebagai lumbung pangan nasional melalui terobosan di sektor pertanian. Pada Sabtu (28/2/2026), Pemerintah Kabupaten Bojonegoro sukses menggelar panen raya padi Varietas Gamagora 7 di Desa Bayamgede, Kecamatan Kepohbaru.
Capaian ini merupakan buah manis dari kolaborasi strategis antara Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dalam upaya mewujudkan swasembada pangan yang adaptif terhadap perubahan iklim.
Produktivitas Melampaui Rata-Rata Nasional
Hasil ubinan dari pengembangan varietas Gamagora 7 di Bojonegoro mencatatkan angka yang sangat menggembirakan. Di lokasi panen Desa Bayamgede, produktivitas mencapai 11,4 ton per hektare atau setara 10 ton Gabah Kering Giling (GKG).
Angka ini jauh melampaui rata-rata produktivitas nasional yang saat ini berada di kisaran 5,2 hingga 5,3 ton per hektare. Bahkan, di wilayah dengan hasil terendah sekalipun, yakni Kecamatan Ngasem, varietas ini masih mampu menghasilkan 7,6 ton per hektare (6,6 ton GKG).
“Target kami tidak hanya menjaga produktivitas, tetapi meningkatkannya hingga menjadi salah satu yang tertinggi di Indonesia. Itu adalah impian dan legasi yang ingin kami tinggalkan,” tegas Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, saat menghadiri prosesi panen raya.
Gamagora 7: Jawaban Atas Tantangan Iklim
Varietas Gamagora 7, yang merupakan singkatan dari Gadjah Mada Gogo Ranca, dirancang khusus oleh para ahli di UGM untuk menghadapi ketidakpastian cuaca. Wakil Dekan Fakultas Pertanian UGM, Prof. Subejo, menjelaskan bahwa varietas ini memiliki karakter “super”:
- Adaptif Tinggi: Tahan terhadap kondisi kelebihan air maupun kekurangan air (kekeringan).
- Ramah Lingkungan: Sangat responsif terhadap penggunaan pupuk hayati dan bahan non-kimia.
- Solusi Lahan: Mampu memperbaiki kualitas tanah yang menurun akibat penggunaan kimia jangka panjang.
Infrastruktur dan Manajemen Air Jadi Kunci
Keberhasilan panen ini tidak lepas dari dukungan masif infrastruktur pertanian yang dibangun Pemkab Bojonegoro sepanjang tahun 2025. Kepala DKPP Bojonegoro, Zaenal Fanani, mengungkapkan bahwa peningkatan produksi padi Bojonegoro tahun 2025 mencapai 24,7% (dari 710.502 ton menjadi 886.443 ton).
Lompatan besar ini didukung oleh:
- Pembangunan Irigasi: Sepanjang 24.248 meter.
- Normalisasi Embung: Sebanyak 23 titik untuk cadangan air.
- Pompanisasi: Pembangunan 16 titik pompa air untuk lahan tadah hujan.
- Pendampingan PPL: Tingkat kunjungan penyuluh lapangan mencapai 99% untuk memastikan petani bebas dari serangan hama.
Optimisme Menuju Swasembada Berkelanjutan
Meski tantangan iklim di tahun 2026 diperkirakan akan memasuki fase kemarau kering, keberhasilan demplot Gamagora di lima kecamatan (Dander, Ngasem, Kepohbaru, Sugihwaras, dan Kedungadem) memberikan rasa optimisme baru.
Bupati Setyo Wahono memastikan bahwa pembangunan embung dan normalisasi sungai akan terus dilanjutkan untuk menjamin ketersediaan air bagi petani. Dengan sinergi antara teknologi benih dari UGM dan penguatan infrastruktur daerah, Bojonegoro kini berada di jalur yang tepat untuk menjadi daerah swasembada pangan yang membanggakan dan mandiri secara berkelanjutan.












