Usaha

Kerjaan Sampingan Hasilkan Cuan Banyak: Cerita Usaha Ali Rohman Beternak Puyuh

187
×

Kerjaan Sampingan Hasilkan Cuan Banyak: Cerita Usaha Ali Rohman Beternak Puyuh

Sebarkan artikel ini
Ali Rohman (Maman) sedang memberi makan puyuh/Sumber: DariNOL

Huluhilir.com – Punya waktu luang dan pengen makin produktif? Mungkin cerita Ali Rohman (biasa disapa Maman) ini bisa menjadi inspirasi. Di tengah kesibukannya menjadi tenaga pendamping desa, Maman beternak burung puyuh. Hasilnya, lumayan besar. Beternak puyuh mudah dan tak membutuhkan lahan luas.

Maman berada di Desa Wedi, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro. Beberapa waktu lalu, dariNOL (chanel YouTube) mewawancari dalam salah satu program podcast-nya. Tulisan ini semua diolah dari hasil wawancara hots dariNOL Iwan Siswoyo dengan Maman, langsung dari kandang ternak puyuhnya.

Keputusan Maman terjun ke dunia peternakan burung puyuh bukan tanpa alasan. Ia jeli menangkap sinyal pasar, terutama sejak adanya program Makan Bergizi Gratis yang dicanangkan pemerintah. Baginya, telur puyuh adalah komoditas protein yang akan selalu dicari.

“Saya melihat peluang, jadi saya membuat ternak puyuh untuk diambil telurnya. Keuntungan saya adalah memulai ternak justru setelah pasarnya sudah ada,” ungkap Maman.

Baca Juga:   Sumber-sumber minyak dan gas bumi di Bojonegoro, apa saja?

Keseharian Maman kini diisi dengan memberi makan di pagi hari dan memanen telur, lalu sore hari memberi makan. Namun, ada satu ilmu penting yang ia pegang teguh dari rekan sejawatnya: jangan pernah mengambil telur di sore hari.

Karena, puyuh biasanya bertelur pada sore hingga malam hari. Jika diganggu saat proses tersebut, burung bisa mengalami stres. Dampaknya tidak main-main; puyuh yang stres bisa berhenti bertelur hingga satu bulan penuh. Oleh karena itu, konsistensi waktu dan kualitas pakan menjadi kunci utama agar produktivitas tetap terjaga di angka 90% hingga 100%.

Ali Rohman atau Maman bersama host dariNOL Iwan Siswoyo/Sumber: dariNOL

Hitung-hitungan Cuan

Banyak orang mengira beternak butuh lahan luas. Maman mematahkan anggapan itu. Dengan kandang berukuran 3×6 meter saja, peternak sudah bisa menampung hingga 2.000 ekor puyuh.

Berikut adalah gambaran ekonomi bisnis puyuh ala Maman:

Baca Juga:   Yuk gabung jadi mahasiswa STIE Cendekia Bojonegoro, ini caranya

– Modal Bibit: Harga bibit puyuh usia 30 hari dibanderol sekitar Rp8.500 per ekor.

– Masa Produksi: Dalam 2 minggu pasca-beli, puyuh mulai bertelur secara bertahap.

– Potensi Pendapatan: Dengan populasi 1.000 ekor, peternak bisa mengantongi pendapatan bersih sekitar Rp3 juta per bulan setelah dipotong biaya pakan.

– Balik Modal: Jika dikelola dengan benar, hanya butuh waktu 4 bulan untuk mencapai titik impas (break-even point).

– Harga Pasar: Saat ini, telur puyuh dijual di kisaran Rp28.000 hingga Rp30.000 per kilogram.

Namun, usaha ternak puyuh tidak selalu berjalan mulus. Tetap ada tantangannya. Yakni limbah atau kotoran. Maman berpesan agar pemula sangat memperhatikan hal ini. Namun, di tangan yang kreatif, limbah ini justru bisa menjadi sumber penghasilan tambahan.

Menurut dia, limbah kotoran puyuh bisa dikeringkan untuk pupuk organik atau diolah menjadi media budidaya magoat. Magot tersebut kemudian dapat dijual kembali kepada para pembudidaya ikan lele, sehingga tercipta ekosistem usaha yang minim sisa.

Baca Juga:   Bojonegoro Tak Naikkan Pajak Bumi Bangunan Tahun 2026

Membangun Jejaring, Sukses Bersama

Maman tidak ingin sukses sendirian. Saat ini, meski ia baru memiliki 600 ekor, ia aktif berjejaring dengan teman-teman lama sesama peternak untuk saling menampung hasil produksi. Ia mengajak rekan-rekannya membuka ternak serupa, meski dalam skala kecil seperti 200 atau 300 ekor.

“Saya ajak sukses bareng. Kita yang mencoba menentukan harga pasar dengan pembeli tetap, sehingga harga tetap stabil meskipun di luar sana naik-turun,” jelasnya.

Bagi Maman, rahasia bisnis ini sederhana: jaga kebersihan, perhatikan kualitas makanan, dan kelola limbah dengan bijak. Jika ingin penghasilan setara UMK, mulailah dengan 1.000 ekor.