Hijau

Anggrek Larat Hijau: Harta Karun Tersembunyi Hayati Bojonegoro

13
×

Anggrek Larat Hijau: Harta Karun Tersembunyi Hayati Bojonegoro

Sebarkan artikel ini
Anggrek Larat Hijau/Sumber: Bojonegorokab

Huluhilir.com – Kekayaan alam Kabupaten Bojonegoro kembali menunjukkan pesonanya yang luar biasa. Melalui sebuah langkah kolaboratif, tim gabungan lintas instansi berhasil menemukan “harta karun” hijau yang kini menjadi tumpuan harapan bagi kelestarian ekosistem dan pengakuan internasional daerah tersebut.

Pada 14–15 Februari 2026, sebuah ekspedisi pencarian Anggrek Larat Hijau (Dendrobium capra) dilaksanakan di kawasan hutan jati Bojonegoro. Meliputi RPH Sukun, RPH Dodol, hingga area makam dekat Terminal Betek, Kecamatan Gondang, tim berhasil mengidentifikasi sebanyak 27 individu anggrek langka tersebut.

Rinciannya, sebanyak 20 individu ditemukan di RPH Dodol dan 7 individu lainnya ditemukan di area makam Betek. Temuan ini mengejutkan banyak pihak karena jumlahnya jauh melampaui perkiraan awal.

Baca Juga:   Angling Dharma Bojonegoro, Punya Petilasan yang Indah dan Sarat Sejarah!

“Ini bukan sekadar angka, tetapi bukti bahwa alam Bojonegoro masih menyimpan kekayaan hayati yang luar biasa dan layak diperjuangkan,” ujar Dr. Laily Agustina Rahmawati, akademisi penggiat Geopark sekaligus pakar konservasi dari Universitas Bojonegoro (Unigoro).

Keberadaan anggrek ini bukan tanpa syarat. Dendrobium capra diketahui sangat bergantung pada inang berupa pohon jati berusia tua. Di lokasi RPH Dodol, tim menemukan anggrek-anggrek ini menempel pada tegakan jati yang diperkirakan telah berusia 100 tahun.

Tekstur kulit batang jati tua yang kasar dan stabil menjadi rumah yang sempurna bagi pertumbuhan alami spesies epifit ini. Selama habitat ini terjaga dari penebangan, peluang pelestarian di habitat asli (in-situ) masih sangat terbuka lebar.

Baca Juga:    Workshop SIINas: IKM Bojonegoro Harus Naik Kelas Menuju Pasar Ekspor

Penemuan ini bukan hanya kabar baik bagi pecinta tanaman, melainkan langkah strategis bagi ambisi Bojonegoro meraih status UNESCO Global Geopark (UGGp). Keanekaragaman hayati (biodiversitas) merupakan salah satu pilar penilaian utama UNESCO.

Dr. Laily menekankan pentingnya penetapan area konservasi khusus, terutama di RPH Dodol, sebelum penilaian asesor UNESCO yang direncanakan pada Juli 2026. Tantangannya, kawasan tersebut saat ini masih berstatus Hutan Produksi, sehingga diperlukan koordinasi intensif dengan pihak Perhutani.