Usaha

Kerupuk Upil Kriuk-kriuk yang Khas, Cerita Bisnis Siti Murtini

529
×

Kerupuk Upil Kriuk-kriuk yang Khas, Cerita Bisnis Siti Murtini

Sebarkan artikel ini
Kerupuk Upil Kriuk-kriuk yang Khas, Cerita Bisnis Siti Murtini/ Foto: Mastumapel-Eni

Huluhilir.com – Di tengah gemerlap hidangan Lebaran, kerupuk upil hadir sebagai camilan khas yang tak lekang oleh waktu. Renyahnya kerupuk yang digoreng dengan pasir ini menjadi primadona di meja tamu, menemani hangatnya silaturahmi.

Kerupuk upil, dengan namanya yang unik, dikenal di berbagai daerah di Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Di Bojonegoro, camilan ini mudah ditemukan dan menjadi salah satu pilihan oleh-oleh khas.

Apa Itu Kerupuk Upil?

Kerupuk upil terbuat dari tepung tapioka, bawang putih, dan garam. Konon, nama “upil” disematkan karena ukurannya yang kecil dan rasanya yang sedikit asin. Camilan ini digoreng menggunakan pasir, bukan minyak goreng.

Menurut catatan sejarah, kerupuk pertama kali dibuat dari kulit sapi atau kerbau dan hanya dikonsumsi oleh kalangan atas. Masyarakat biasa kemudian membuat kerupuk dari tepung tapioka sebagai pendamping nasi, karena sulitnya mendapatkan sayuran. Penggunaan pasir untuk menggoreng pun berawal dari mahalnya harga minyak goreng.

Baca Juga:   Jajanan Mam’En, Camilan Rumahan Favorit dengan Harga Mulai Rp5 Ribu

Kisah Sukses Siti Murtini

Siti Murtini (43), warga Desa Ngraho, Kecamatan Gayam, Bojonegoro, telah 13 tahun menjalankan bisnis kerupuk upil. Usaha ini merupakan resep turun temurun yang ia jalankan bersama suaminya.

“Usaha ini sudah lama saya jalankan, resepnya turun temurun dari keluarga,” ujar Murtini, Rabu (26/3/2025).

Proses pembuatan kerupuk upil memakan waktu sekitar satu minggu. Dimulai dari mencampur bahan, merebus adonan, mendiamkannya selama dua hari, memotong, dan menjemurnya. Jika cuaca cerah, penjemuran hanya membutuhkan waktu dua hari.

Setelah itu, kerupuk digoreng dengan pasir panas di atas kuali tanah liat. “Pasir yang digunakan adalah pasir bengawan, biasanya minta di tukang bangunan,” kata Murtini sambil tertawa kecil.

Baca Juga:   Pelaku UMKM di Bojonegoro Belajar Bahasa Inggris 

Murtini mengemas kerupuk upil dalam plastik ukuran 1 kg dan menjualnya dengan harga Rp 2.000 per bungkus. Dalam sehari, ia bisa menjual dua karung kerupuk upil yang telah digoreng.

“Dari satu karung tepung tapioka 10 kg, bisa jadi sekitar 40 bungkus kerupuk upil,” jelasnya.

Pemasaran dan Penjualan

Murtini memasarkan kerupuk upil di Pasar Tobo, Kecamatan Purwosari, Bojonegoro. Ia juga menyetok pedagang sayur keliling. “Kadang ada pembeli yang membeli kerupuk upil mentah untuk digoreng sendiri,” ungkap ibu dua anak itu.

Di bulan Ramadhan, permintaan kerupuk upil meningkat, terutama menjelang Lebaran. “Paling banyak bisa habis 3 karung kerupuk upil matang,” tuturnya.

Kerupuk upil biasanya dinikmati dengan sambal pecel, tetapi bisa juga dikonsumsi dengan cara lain sesuai selera. Camilan ini cocok dinikmati saat berkumpul bersama keluarga atau teman. “Selama masih ada yang membeli, berarti masih ada yang suka dengan kerupuk upil saya,” kata Murtini sambil tersenyum.

Baca Juga:   Cerita Syafna Rintis Bisnis Sejak Kuliah di Unugiri, Setelah Lulus Bisnis Makin Hits

Kerupuk upil bukan sekadar camilan, tetapi juga cerminan budaya dan tradisi masyarakat Jawa. Dengan membeli dan mencicipinya, kita turut melestarikan warisan kuliner yang berharga ini. (Eni Puspita Sari)