Oleh: Eni Puspita Sari
Di usianya yang menginjak 53 tahun, Nur Imamah membuktikan bahwa produktivitas tidak mengenal usia. Selain disibukkan dengan mengajar dan kewajiban sebagai ibu rumah tangga, Ibu Nur sukses menekuni bisnis kuliner tradisional. Andalan utamanya: Kue Putu Tegal.
Ibu empat anak yang kini telah memiliki dua cucu ini menjalankan bisnis kulinernya dari rumahnya di Dusun Kalangan, Desa/Kecamatan Padangan, Bojonegoro. Bisnis ini sudah berjalan selama tiga tahun, dimulai sejak masa pandemi COVID-19.
Berawal dari Kecintaan pada Kelapa dan Kebutuhan Ekonomi
Keputusan Ibu Nur untuk berjualan kue Putu Tegal lahir dari dua alasan utama. Pertama, kecintaannya pada makanan yang mengandung kelapa. Kedua, kebutuhan untuk menambah pemasukan ekonomi keluarga, terutama untuk membiayai kuliah dan mondok dua anaknya.
“Awalnya, saya suka makanan yang berbau-bau kelapa. Terus, zaman dulu kan ada kue yang namanya Putu Tegal, saya coba buat kog enak kemudian membagikan ke tetangga kanan-kiri. Mereka bilang enak dan suka, dari sini saya mulai sadean (jualan),” papar Nur Imamah.
Awalnya, promosi Putu Tegal hanya dari cerita mulut ke mulut. Ibu Nur menjajakan kuenya dengan menitipkan ke pedagang kue tradisional di dekat rumah, serta berjualan saat ada bazar atau Car Free Day (CFD) di Padangan. Berkat rasanya yang khas, Putu Tegal buatannya selalu dikangeni oleh para penggemar kue tradisional.
Putu Tegal Khas dengan Isian Pisang Raja
Putu Tegal buatan Ibu Nur berbeda dari kue putu yang biasa kita temui—yang biasanya berbunyi nyaring dan berisi gula merah.
Putu Tegal Ibu Nur bertekstur kenyal dan lengket karena menggunakan adonan tepung ketan dan tepung beras. Kue ini berisi pisang matang di dalamnya, dan di atasnya dibaluri kelapa parut dan gula pasir. Sekilas, penampilannya yang berwarna hijau mirip klepon.
Ciri Khas Resep Putu Tegal

- Adonan: Perpaduan tepung ketan dan tepung beras dengan perbandingan 3:1 (misalnya, 3/4 kilo tepung ketan dan 1/4 kilo tepung beras).
- Isian: Menggunakan pisang raja yang didapat dari langganannya untuk menjaga kualitas.
- Gula Pasir: Ibu Nur memiliki ciri khas sendiri, yaitu gula pasir ditabur terpisah di dalam plastik kecil.
- Kelapa Parut: Kelapa dikukus agar tidak lengket dengan adonan lain.
Ibu Nur mengakui bahwa resepnya merupakan hasil dari coba-coba dan belajar dari masukan tetangga. “Resep Putu Tegal yang saya jual adalah dari coba-coba… dari mereka mendapat masukan, ada yang bilang kurang ini dan itu, jadilah belajar dari situ,” jelasnya.
Pada hari biasa, Ibu Nur mampu membuat 50-60 bungkus Putu Tegal. Namun, jika ada bazar, orderan bisa melonjak hingga 300 bungkus. Meski begitu, tantangan terbesarnya adalah ketika pisang—bahan utama isian kue—sedang tidak musim. Selain itu, keterbatasan tenaga dan waktu juga membatasi jumlah kue yang dibuat.
Ibu Nur Imamah bersyukur Putu Tegal buatannya masih sering dicari pelanggan. Ia berpesan kepada sesama pebisnis kuliner untuk selalu menjaga kebersihan makanan dan yang paling penting, sabar dalam menjalankan usaha. Ia berharap bisnis kue tradisional Putu Tegalnya bisa terus berkembang luas dan makin banyak peminat kue tradisional in












