Kabar

BWBF 2025, Membawa Batik Bojonegoro Menjadi Kebanggan Bersama

770
×

BWBF 2025, Membawa Batik Bojonegoro Menjadi Kebanggan Bersama

Sebarkan artikel ini
Bojonegoro Wastra Batik Festival/Sumber: Bojonegorokab.go.id

Bojonegoro Wastra Batik Festival (BWBF) 2025 resmi ditutup. Sebuah pesta batik yang meriah. Bukti Bojonegoro serius menyemai tradisi. Ekonomi kreatif batik pun didorong ke kancah nasional.

Festival ini digelar Pemkab Bojonegoro sejak 18 Juni dan berakhir 21 Juni lalu. Antusiasme warga sungguh luar biasa. Alun-alun kota yang biasanya sepi, menjadi penuh sesak. Berbagai acarapun digelar, mulai lomba desain batik, lomba mewarnai, hingga grand final Kange Yune 2025. Semua semarak dan megah.

Batik Kebanggaan Bojonegoro

Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, hadir mengenakan batik motif daun jati. Ia menjelaskan tujuan BWBF 2025 sebagai langkah membangkitkan dan menggerakkan UMKM batik. Tujuannya agar batik Bojonegoro dikenal luas. “Batik akan menjadi kebanggaan daerah,” tegasnya.

Bupati Wahono juga menyoroti kearifan lokal Bojonegoro. Motif batik memiliki akar kuat. Penuh nilai filosofis. “Ada motif jagung, tembakau, daun jati, sumur tua, kayangan api,” jelasnya. Semua adalah kebanggaan daerah. “Batik Bojonegoro mampu menggambarkan kearifan lokal dan ikon Bojonegoro,” imbuhnya.

Baca Juga:   Menpora Resmi Buka Kejuaraan Tarkam di Bojonegoro

Ia tak lupa berterima kasih. Kepada para stakeholder. Terutama peserta dari daerah tetangga. Mereka ikut menyukseskan festival. Pemkab Bojonegoro berkomitmen. Festival batik tahun depan akan digelar lagi. Dengan konsep lebih baik. “Kami berkomitmen untuk terus promosi, berjejaring agar lebih dikenal luas,” pungkasnya.

BWBF 2025 memang jadi ajang promosi. Para perajin UMKM batik punya panggung promosi dan jualan. Pemkab Bojonegoro juga dorong industri kreatif. Melestarikan wastra batik nusantara. Talenta muda didorong berkarya lewat lomba desainer muda.

Omzet Besar, Senyum Mereka Sumringah

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro, Welly Fitrama, angkat bicara. Dalam Closing Ceremony, ia membeberkan hasilnya. BWBF empat hari membawa dampak ekonomi besar. Perputaran uang tembus Rp 1 miliar lebih. “Selama kegiatan perputaran uang mencapai Rp 1.315.387.000,” ungkapnya.

Baca Juga:   Usia Harapan Hidup Warga Bojonegoro Capai 74,72 Tahun

Uswatun Hasanah dari Tuban ikut merasakan. Pemilik rumah batik gedog Sekar Ayu Wilujeng ini terkesan. Ia bersama perajin Tuban lain datang khusus. “Kami senang, pameran dilaksanakan di Bojonegoro tapi terasa di kota besar seperti Jakarta,” katanya. Baginya, ini pameran terbaik di daerah.

Uswatun terpukau dengan keramahan pengunjung. Pembeli juga banyak. Ia sampai tiga kali harus datangkan produk dari Tuban. Fasilitas pameran juga membuatnya nyaman. Termasuk tempat sampah yang mudah ditemui. “Makanannya juga enak-enak. Saya dan suami jadi gagal diet,” candanya. “Pedagang ramah dan tidak menaikkan harga.”

Harapan untuk Masa Depan Batik

Yuli Aya, perajin batik dari Tulungagung, setuju. Ia mengapresiasi Pemkab Bojonegoro. Event batik ini sungguh meriah.

Baca Juga:   Ke Bojonegoro, Menteri LH Hanif Faisol Pimpin Korve Kebersihan di Pasar Wisata

Baginya, BWBF momen yang ditunggu. Khususnya pelaku UMKM. Ajang promosi produk unggulan. “Ini juga bagian dari marketing,” kata Yuli. “Untuk menjual produk kita agar dikenal masyarakat luas.” Tak hanya peluang ekonomi. Tapi juga promosi potensi budaya. Melalui batik khas daerah masing-masing.

Yuli berharap event ini berlanjut. Tidak hanya di Bojonegoro. Tapi juga di kabupaten lain. Ia mengajak perajin batik terus berkarya. Tetap optimis. Terutama meningkatkan kualitas produk. Cara marketing yang jitu. Dan ilmu lain yang diperlukan dunia usaha.