Huluhilir.com – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Bojonegoro berdiri sebagai mitra strategis Pemerintah Daerah dalam memajukan Industri Kecil Menengah (IKM) dan melestarikan seni budaya lokal. Lembaga ini memiliki peran vital, tidak hanya sebagai wadah partisipasi masyarakat perajin, tetapi juga sebagai motor penggerak kebangkitan ekonomi kreatif.
Profil Dekranasda Bojonegoro
Secara kelembagaan, Dekranasda bertugas membantu Pemerintah Daerah dalam pembinaan, pengembangan kerajinan, dan peningkatan taraf hidup masyarakat.
Ketua Umum: Dr. Hj. Cantika Wahono
Periode Jabatan: 2025–2030
Tugas Utama: Membina, mengembangkan kerajinan, melestarikan nilai budaya, dan meningkatkan daya saing IKM/UKM.
Fokus Strategis: Peningkatan kualitas desain, kemasan, branding, akses pendanaan, promosi, dan pemasaran.
Fokus Kolaborasi: Lintas sektor, yakni perindustrian, kebudayaan, koperasi, pariwisata, perdagangan, dunia usaha, dan perbankan
Dr. Hj. Cantika Wahono resmi dilantik sebagai Ketua Dekranasda Kabupaten Bojonegoro pada 7 Maret 2025. Dalam kepemimpinannya, ia berkomitmen menjadikan kerajinan-kerajinan Bojonegoro semakin berkualitas dan memiliki daya saing di pasar regional, nasional, bahkan internasional.
Kiprah Dekranasda dalam Menggerakkan Ekonomi
Gerakan Dekranasda di Bojonegoro berfokus pada langkah-langkah nyata untuk meningkatkan kualitas dan jangkauan produk lokal:
1. Membawa Batik Jonegoroan ke Level Nasional dan Internasional
Batik menjadi salah satu produk unggulan yang didorong secara masif oleh Dekranasda. Beberapa langkah konkret telah dilakukan:
- Partisipasi Pameran: Dekranasda aktif mengirimkan perwakilan perajin ke pameran besar seperti Batik Fashion Fair (BFF) di Surabaya dan pameran kerajinan internasional seperti Inacraft di Jakarta.
- Pengakuan Nasional: Komitmen Bojonegoro terhadap batik terbukti ketika stand Dekranasda Bojonegoro meraih Juara 1 Stand Terbaik di Pekan Batik Nusantara 2024.
- Apresiasi Motif Khas: Dekranasda secara konsisten memperkenalkan motif batik khas Jonegoroan, seperti motif Godong Jati dan Mliwis Mukti, yang merepresentasikan kekayaan alam dan filosofi lokal. Ketua Dekranasda bahkan secara khusus menyoroti filosofi motif seperti Waduk Pacal yang menggambarkan kehidupan dan ekonomi masyarakat sekitar.
- Obsesi Menjadikan Bojonegoro Gerbang Batik Jawa Timur
Di bawah kepemimpinan Cantika Wahono, muncul obsesi besar untuk menjadikan Bojonegoro sebagai “Gerbang Batik Jawa Timur”. Obsesi ini didasari oleh letak strategis Bojonegoro yang berbatasan langsung dengan Jawa Tengah.
- Kerja Sama Strategis: Pada Juni 2025, Dekranasda Bojonegoro menjalin kunjungan dan kerjasama strategis dengan Dekranasda Kota Surakarta (Solo), yang telah lebih dulu memiliki identitas dan sentra batik yang kuat. Kunjungan ini bertujuan menjajaki pengelolaan batik dan destinasinya.
- Wastra Batik Festival: Untuk menguatkan obsesi tersebut, Pemkab Bojonegoro bersama Dekranasda rutin menggelar event besar seperti Wastra Batik Festival, yang menjadi ajang kolaborasi dan pameran karya batik
- Pembinaan dan Program Kewirausahaan (PKW)
Dekranasda tidak hanya fokus pada promosi, tetapi juga pada pembentukan wirausaha baru melalui pembinaan:
- Peningkatan Kapasitas IKM: Dekranasda menyelenggarakan rapat kerja dan pembinaan bagi pelaku IKM dan UKM untuk menyusun peta jalan pengembangan (Renstra) 2025–2030, bertujuan meningkatkan daya saing dan kemandirian ekonomi.
- Program Kecakapan Wirausaha (PKW): Bojonegoro terpilih sebagai salah satu kabupaten penerima Program Kecakapan Wirausaha dari pemerintah pusat. Melalui PKW, Dekranasda mendorong tumbuhnya wirausaha muda di sektor kerajinan. Salah satu hasilnya adalah pengembangan produk batik Obor Sewu yang kini dimanfaatkan oleh ASN, menciptakan pasar yang jelas bagi perajin.
Melalui kiprahnya, Dekranasda Bojonegoro tidak hanya melestarikan budaya, tetapi secara nyata menggerakkan roda perekonomian dari tingkat bawah, menjembatani produk lokal agar mampu bersaing dan bersinar di kancah global.












