Huluhilir.com – Di balik aroma kencur dan daun jeruk purut yang menyeruak dari dapur Siti Asiyah, tersimpan sebuah dedikasi yang telah dipupuk sejak ia masih kecil. Jauh sebelum ia memantapkan diri terjun ke dunia bisnis sambal pecel pada tahun 2024, Siti sudah berada di lingkaran bisnis kuliner. Ia menerima pesanan nasi kotak. Pesanannya sudah cukup banyak, terutama untuk menyuplai menu untuk acara-acara pelatihan.
Hingga pada 2024 lalu, ia memulai bisnis sambal pecel. Alasannya sederhana: sambal pecel praktis untuk dimakan bersama. Dalam menjalankan bisnisnya, kualitas adalah harga mati. Ia teringat pesan mendalam dari sang ibu angkat tentang pentingnya merawat kualitas produk. Salah satu prinsip yang dipegang teguh hingga kini adalah penggunaan bahan-bahan alami tanpa sentuhan MSG, sebuah standar kesehatan yang sudah diterapkan ibu angkatnya di masa lampau.
“Kualitas kacang harus bagus. Kalau tidak bagus, rasanya tidak akan enak. Kebersihan juga kami perhatikan dan jadi nomor satu,” ujar Siti dalam sebuah podcast Bincang IKM yang diinisasi oleh Radio Malowopati FM, Senin (2/3/2026). Podcast tersebut juga tayang secara live di YouTube Malowopati Radio dengan host Iwan Siswoyo.
Setiap butir sambal yang dihasilkan merupakan perpaduan harmonis antara garam, kencur, daun jeruk purut, sedikit bawang putih, dan asam jawa pilihan. Siti menekankan bahwa pemilihan asam jawa tidak boleh sembarangan untuk mendapatkan rasa yang pas.
Seni di Balik Penggorengan
Proses produksi sambal pecel ini bukanlah hal yang bisa terburu-buru. Siti hanya berproduksi setiap dua hari sekali. Alasannya sederhana namun krusial: kacang yang telah digoreng harus didiamkan selama sehari penuh sebelum diolah agar tidak mudah tengik.
Tantangan lain berada pada penggorengan. “Yang paling susah itu di penggorengan. Jangan sampai gosong,” tuturnya. Ketelitian ini membuahkan hasil berupa sambal pecel kering yang awet dan praktis, dengan masa kedaluwarsa antara 1 hingga 6 bulan.
Depot Iqlil: Nama Cucu
Nama Sambal Pecel Depot Iqlil diambil dari nama cucu tercintanya. Meski saat ini Siti masih mengerjakan segala sesuatunya sendirian, mulai dari memilih bahan hingga pengemasan, ia memiliki impian besar untuk masa depan. Kini sekali produksi mencapai 5 – 10 kg kacang. Kadang jika ramai bisa 20 kg. Untuk harga di pasaran kisaran Rp30.000 hingga Rp35.000 per bungkus.
Untuk urusan pemasaran, Siti menggunakan strategi jemput bola. Selain memanfaatkan media sosial, ia bekerja sama dengan sekitar 10 reseller dan menitipkan produknya di toko-toko dengan sistem konsinyasi.
Siti sadar bahwa dunia usaha adalah medan persaingan yang ketat. Namun, ia punya rahasia sederhana untuk bertahan: Sabar. “Rahasia bisnis ya sabar. Laku atau tidak laku ya harus sabar,” pesannya.
Bagi para pemula, ia mengingatkan agar tidak hanya membayangkan kesuksesan semata, karena kegagalan adalah bagian dari proses yang tak terelakkan. Kini, dengan izin usaha dan label halal yang sudah lengkap, Siti Asiyah optimis sambal praktis buatannya akan semakin diminati masyarakat.
Untuk pemesanan langsung, silakan hubungi: 081259594165.












