Kabar

Cuaca Ekstrem, Ini Penjelasan Pakar dari UGM

591
×

Cuaca Ekstrem, Ini Penjelasan Pakar dari UGM

Sebarkan artikel ini

Tetap waspada

Cuaca Ekstrem
Sumber: Freepik

Badan Meteorologi BMKG Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memprediksi dalam tiga hari ke depan, Kamis hingga Sabtu, 27-29 April 2023, Kota Yogyakarta dan wilayah DIY lainnya akan menghadapi kondisi cuaca ekstrem. Selain curah hujan yang tinggi, dapat terjadi kejadian cuaca ekstrim berupa angin kencang dan petir. Penyebab cuaca ekstrem tersebut adalah sirkulasi siklon Samudera Hindia Barat di Sumatera yang membentuk pertemuan dan perlambatan kecepatan angin atau konvergensi yang meluas hingga ke luar pulau Jawa.

Apa kata para ahli tentang kondisi cuaca ekstrem akhir-akhir ini? Menurut BMKG yang dikutip dari ugm.ac.id, Dr. DI Emilya Nurjani mengatakan bahwa cuaca ekstrim merupakan fenomena alam yang tidak normal dan tidak biasa serta ditandai dengan kondisi curah hujan, arah dan kecepatan angin, suhu udara, kelembaban dan jarak pandang yang baik. Kerugian terutama keselamatan jiwa dan harta benda.

Contoh cuaca ekstrim adalah angin topan yang menyebabkan angin kencang dan hujan lebat. Contoh pada tahun 2012 adalah suhu tinggi 40 derajat di Larantuka, Flores Timur.

Baca Juga:   Cerita Granita Elsa buka toko kelontong dari hutang ke orang tua hingga omzet Rp 380 juta

Emilya juga mengatakan ada banyak faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya kondisi cuaca ekstrem. Tergantung dari jenis cuaca ekstrim, apakah hujan ekstrim atau hujan dengan intensitas lebih dari 100 mm/jam, penyebabnya adalah kelembaban yang tinggi. Gangguan atmosfer seperti badai musim dingin, front hangat atau dingin, siklon tropis.

“Kondisi udara hangat mengandung lebih banyak kelembapan apapun kelembapan salah satu faktor yang dapat menyebabkan hujan lebat. Lingkungan yang hangat secara langsung dapat berpotensi membentuk kejadian hujan ekstrem yang lebih sering,” ujarnya dikutip dari ugm.ac.id

Namun untuk suhu panas atau cuaca panas, kata Emilya, bisa terjadi pada awal musim panas/kemarau yang dipengaruhi angin musim dan posisi matahari akibat pergerakan semu matahari atau gelombang panas yang ditandai dengan pusat tekanan tinggi yang terhalang oleh massa udara yang lebih rendah.

Baca Juga:   Pemkab Bojonegoro Bersama UGM Kerja Sama Bangun Daerah

Emilya mengatakan cuaca dan iklim global dipengaruhi oleh atmosfer, hidrosfer, biosfer, dan geosfer. Perubahan di Bumi atau jauh dari Bumi mempengaruhi sistem iklim.

Misalnya faktor luar angkasa, yaitu jarak antara bumi dan matahari. Jarak antara bumi dan matahari baik jauh maupun dekat mempengaruhi iklim bumi, bentuk lintasan matahari bumi (melingkar atau elips) juga mempengaruhi iklim bumi.

“Penemuan mesin uap tahun 1750 mendorong penggunaan bahan bakar fosil yang meningkatkan gas rumah kaca dan suhu permukaan bumi. Jika kita berdiri di daerah perkotaan yang padat permukiman atau di daerah hutan kota maka akan sangat merasakan suhu udara yang berbeda, artinya perbedaan penutup lahan atau penggunaan lahan akan menimbulkan efek yang berbeda terhadap suhu yang dirasakan oleh manusia,” tambahnya.

Emilya kembali menegaskan bahwa perubahan iklim yang dialami saat ini disadari atau tidak, karena salah satu penyebabnya adalah perubahan tutupan lahan atau berkurangnya lahan terbuka secara alami. Ia juga mengakui bahwa pemerintah telah mengajukan banyak solusi, baik berupa regulasi maupun langkah-langkah sosial yang konkrit.

Baca Juga:   Super inovatif, mahasiswa UGM kembangkan genteng bertenaga surya

Namun, hal itu membutuhkan dukungan seluruh masyarakat. Tidak hanya masyarakat Indonesia, tetapi seluruh masyarakat global, terutama dalam hal mitigasi atau antisipasi dampak yang mungkin terjadi. Salah satu caranya adalah dengan mengurangi konsumsi bahan bakar fosil. Berisi bahan bakar fosil untuk digunakan dalam transportasi, energi dan industri.

“Sistem pertanian pun diharapkan yang ramah lingkungan yaitu rendah emosi karbon, minim penggunaan air, dan senantiasa membiasakan menanam karena itu memberi pengaruh,” tegasnya.

Emilya percaya dalam memprediksi kondisi cuaca ekstrim. Karena cuaca ekstrim ini tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga kerusakan bangunan, infrastruktur atau kendaraan lainnya.