HijauUsaha

Kekuatan Cerita Lokal di Tiap Karya Desain Batik Cussaybienna

729
×

Kekuatan Cerita Lokal di Tiap Karya Desain Batik Cussaybienna

Sebarkan artikel ini

Nama lengkapnya Nurul Kholifah. Namun, ia lebih dikenal dengan Nurul Cussaybina. Nama belakangnya merujuk pada brand bisnis batik yang digelutinya hampir 16 tahunan. Ia tak sekedar berbisnis, akan tetapi menancapkan pesan lokalitas pada setiap karyanya. Dan satu lagi, ia sedikit orang yang menggeluti batik ecoprint.

Siang itu, Nurul tampak sibuk. Ia menerima dengan ramah sembilan mahasiswa dari Unugiri dan IKIP PGRI Bojonegoro. Para mahasiswa itu menjadi peserta Jurnalistik Trip yang digelar oleh Mastumapel.com. Sebuah program untuk mentradisikan jurnalisme mata dan kaki di tengah gempuran artificial intelligence (AI).

Nurul Cussaybienna boleh dibilang satu di antara orang kratif di Bojonegoro. Pada 2009, ia mamulai dari kegiatan menjahit. Bermodal uang Rp 400 ribu, ia membeli mesin jahit bekas dan kain perca. Kain limbah itu kemudian disusun membentuk pola untuk kemudian dijadikan tas, sarung bantal, atau dompet. Karya kreatifnya itu ditawarkan ke ibu-ibu yang menunggui anaknya sekolah. Hasilnya, ternyata banyak ibu yang tertarik.

Baca Juga:   Bojonegoro Siapkan 5 Taman Ikonik di Perbatasan Daerah Tetangga

Dari situ, ia kemudian mengembangkan usahanya. Ia belajar membatik ecoprint. Alasannya sederhana waktu itu. Yakni bahannya lebih mudah dicari di sekitar rumah. Tak heran jika konsistensinya di jalur batik ecoprint, membuatnya lebih dikenal sebagai pengrajin batik ecoprint.

Seiring berjalan waktu, Nurul mengembangkan usahanya dan memproduksi batik tulis dan batik cap. Untuk batik tulis membutuhkan waktu lama. Salah satunya proses canting yang lama. Sehingga, harga pun kemudian tidak bisa ditawar. Antara Rp 800 ribu hingga Rp 2 jutaan.

Pemesan batik karyanya terus berdatangan. Nurul pun kemudian diminta untuk memberi pelatihan-pelatihan membatik di berbagai daerah. Hampir semua kabupaten di Jawa Timur pernah didatangi untuk berbagi ilmu batik kepada para pelaku ekonomi kreatif. Nurul juga banyak mengikuti berbagai event pameran batik.

Baca Juga:   Hadirkan pemateri hebat, HMP-TI sukses gelar PMP-TI

Ada yang menarik dari tiap karya Nurul Cussaybienna. Yakni, cerita lokal yang selalu menyusup pada tiap goresan canting di atas kain batiknya. Jembatan Sosrodilogo misalnya dijadikan motif batik khas Cussaybienna. Jembatan tersebut adalah jembatan yang membelah Bengawan Solo dan menuju ke Trucuk, diantaranya ke desa di mana Cussaybienna berada.

Selain jembatan, gambar perahu kuno juga menjadi salah satu motif batik andalannya. Perahu tersebut ditemukan di Desa Padang, Kecamatan Trucuk yang tak jauh dari tempat tinggal Nurul. Oleh karena itu, perahu dijadikan motif batik sebagai upaya melestarikan cerita lokal dalam karyanya. “Saya selalu mencari-cari cerita lokal untuk memperkuat identitas batik Bojonegoro,” terangnya.

Baca Juga:   Menulis Sejarah Lokal dengan Model Jurnalistik

Dunia boleh bergerak pada keseragaman dengan adanya media sosial. Namun, Cussaybienna memiliki cara tersendiri untuk menciptakan pasarnya sendiri. Yakni, cerita-cerita lokal yang selalu hadir dalam karya batiknya. Tiap warna, garis atau apapun di atas kain batiknya, selalu mengandung cerita lokal.