PERSPEKTIF/ Suasana ruang pertemuan gedung Perpustakaan Daerah Bojonegoro sedikit berbeda. Para penggerak literasi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) berkumpul. Mereka sedang tumpengan. Namun, tumpengnya bukan nasi, melainkan buku.
Rabu 21 Mei 2025, menjadi hari peringatan 27 tahun reformasi. Pada 1998 silam, rezim Soeharto runtuh. Tumpengan buku atau bancakan buku, boleh jadi memiliki semangat yang sama: reformasi. Karena, sebenarnya persoalan reformasi adalah bagaimana menjadikan warga Indonesia melek literasi, bagaimana mendorong minat baca masyarakat semakin tinggi.
Bancakan buku yang dirangkai dengan Musyawarah Daerah (Musda) TBM Bojonegoro ini, perlu dipandang sebagai momen penting gerakan literasi di Bojonegoro. Berangkat dari fakta bahwa minat baca masyarakat masih rendah, dan perpustakaan masih dicitrakan sebagai tempat eksklusif, maka membuat event literasi di perpustakaan menjadi sesuatu yang penting. Apalagi, event itu dihadiri oleh Bupati Setyo Wahono sebagai kepala daerah.
Gerakan Mari ke Perpus
Kegiatan literasi di Kabupaten Bojonegoro memang cukup banyak. Namun, sedikit yang dipusatkan di perpustakaan. Memang, ada dua kemungkinan soal ini. Pertama gedung perpustakaan kurang representatif. Kedua, penggerak literasi lebih nyaman menggelar kegiatan di luar fasilitas pemerintah.
Namun yang pasti, menggelar kegiatan literasi di perpustakaan menjadi simbol betapa pentingnya posisi perpustakaan. Bahwa perpustakaan bukan sekedar ruang baca saja, tapi juga ruang gerakan literasi. Dan pada konteks lain, perpustakaan sebenarnya bisa menjadi destinasi wisata bagi pemustaka.
Bancakan buku yang digelar Forum TBM Bojonegoro bisa memberi ruang pemaknaan baru bagi perustakaan di mata publik. Tinggal nanti bagaimana follow up dari kegiatan itu ditangkap oleh pengelola perpustakaan, dan terutama Pemkab Bojonegoro untuk menjadikan perpustakaan sebagai tempat yang nyaman untuk mencintai ilmu pengetahuan. Tempat yang ketika warga ke sana, jadi jatuh cinta dengan buku, jatuh cinta dengan pengetahuan.
Kehadiran Bupati Wahono
Kehadiran Kepala Daerah ke sebuah acara adalah hal sangat lumrah. Namun, kehadiran Bupati Setyo Wahono bisa dimaknai sebagai dukungan nyata kepala daerah untuk gerakan membaca di Bojonegoro. Selama ini, sangat jarang kepala daerah yang hadir di acara perpustakaan.
Saya membayangkan, Bupati atau Wakil Bupati sering mampir ke Perpustakaan Daerah, mengisi daftar tamu, memiliki kartu perpustakaan, dan menyempatkan waktu sejenak duduk sebentar di perpustakaan, pasti akan memiliki dampak pada gerakan literasi. Karena bagaimanapun, masyarakat tetap membutuhkan sebuah simbol.
Kehadiran Bupati Wahono juga bisa dimaknai sebagai komitmen Pemkab untuk mendorong minat baca, lebih-lebih jika menyiapkan pembangunan perpustakaan modern yang representatif. Para penggerak literasi pasti akan berbangga jika di daerahnya terdapat perpustakaan besar yang modern.
Memang, banyak penggerak literasi yang militan. Bisa bergerak mandiri tanpa ada dukungan siaiapun. Akan tetapi, bagaimanapun kehadiran negara tetap sangat diperlukan. Dan momen bancakan buku ini bisa bermakna nylameti gerakan literasi. Nylameti berarti berharap ke depan lebih baik. Semoga!












