Mbak Nur, Mantan Asisten Dosen yang Jadi Supir Bus di Amerika – Kehidupan perlu diperjuangkan karena memberikan kesempatan bagi kita untuk mencapai tujuan dan potensi yang ada dalam diri kita, serta menikmati kebahagiaan dan makna hidup.
Untuk mencapai tujuan, memang harus melalui proses panjang. Tak jarang jika untuk mencapai tujuan harus rela jatuh bangun. Namun jatuh bangun saat proses mencapai tujuan akan memberikan sebuah pelajaran dan kenikmatan tersendiri. Sebab jika dalam proses tersebut tanpa adanya rintangan yang perlu dihadapi, pencapaian tujuan akan terasa kurang nikmat dan spesial.
Seperti dalam cerita yang dibagikan oleh seorang yang punya jiwa pejuang tinggi dan cukup menginspirasi yakni ibu Yohana Kirk atau biasa dipanggil Mbak Nur. Mbak Nur menceritakan kisah hidupnya yang sebelumnya tidak terbayangkan sama sekali sehingga kini dirinya menjadi Supir Bus di Amerika Serikat. Namun dibalik itu, ternyata Mbak Nur memiliki backround berprofesi yang berbeda.
Mbak Nur merupakan lulusan dari Universitas Indonesia di Fakultas Kesehatan Masyarakat. Di Indonesia, Mbak Nur ternyata pernah menjadi asisten dosen.
Pindah ke Amerika Sebagai Ibu Rumah Tangga

Mbak Nur menceritakan sebelum dirinya pindah ke Amerika, pada saat itu yang ada dalam pikirannya setelah berada di Amerika yakni hanya menjadi ibu rumah tangga. Namun ternyata jalannya berbelok cukup tajam. Sebab keinginannya menjadi ibu rumah tangga kini berbanding terbalik dengan realita.
“nggak pernah terbayangkan mungkin sebelum datang kesini. Karena kan dulu waktu kesini ya ibu rumah tangga, jadi nggak pernah ngebayangin akan jadi pekerja di sini.” kata Mbak Nur dalam YouTube VOA Indonesia.
Motivasi Menjadi Supir Bus Sekolah

Sebenarnya Mbak Nur sebelum menjadi supir bus sekolah pernah menjajali berbagai pekerjaan, seperti menjadi asisten rumah tangga, jasa menjemput anak sekolah yang orang tuanya sibuk bekerja, hingga menjadi noni atau sebagai penjaga anak kecil.
Namun Mbak Nur merasa agak berat dan capek dengan pekerjaan tersebut. Sebab pekerjaan itu tidak bisa bertahan lama. Sebagai contoh saat Mbak Noni menjadi noni, jika anak yang diasuhnya sudah beranjak dewasa maka orang tua atau majikannya pasti tidak membutuhkan noni lagi. Oleh sebab itu, Mbak Nur dipaksa untuk mencari majikan baru setiap tahunnya yang membuatnya merasa jenuh dan capek karena harus berpindah-pindah tempat dan mencari pekerjaan baru.
Pada suatu waktu, Mbak Noni dengan tidak sengaja saat berada di jalan raya dan melihat ada bus sekolah, terlintas di benaknya “Ini bus kok besar banget”. Namun ternyata Mbak Noni juga sempat mengetahui jika sopir bus sekolah di Amerika sopirnya kebanyakan sudah berumur atau sudah tua.
Menjadi Supir Bus Sekolah di Amerika

Setelah merasa cukup bosan dengan pekerjaan yang berubah-ubah tempat, Mbak Nur mencoba peluang lain. Di waktu yang sama, ada lowongan yang Mbak Noni ketahui yakni salah satunya menjadi sopir bus sekolah.
Mbak Noni tidak menyia-nyiakan peluang itu dan mencoba melamar pekerjaan dengan mengirim surat lamaran lewat email. Teryata surat lamaran Mbak Noni mendapatkan jawaban namun mendapatkan dua pilihan. Sebab pada saat itu ada dua pekerjaan dalam satu tempat yang dicoba dimasuki oleh Mbak Noni. Mbak Noni mendapatkan telepon jika ingin mencari pekerjaan yang cepat, lowongan yang tersedia yakni menjadi supir bus sekolah, dan Mbak Noni mendapatkan undangan untuk menjalani tes interview.
Pada hari tes interview, Mbak Noni mencoba untuk tenang dan fokus dengan apa yang akan ditanyakan oleh HRD. Namun ternyata menurut Mbak Noni pertanyaannya cukup mudah.
“Bagaimana cara kamu mengatasi banyak siswa?” tanya HRD kepada Mbak Noni.
“Saya sudah terbiasa dengan banyak anak karena saya punya lima anak” jawab Mbak Noni dengan santai.
Mendengar jawaban dari Mbak Noni, HRD tersebut langsung mengapresiasi Mbak Noni dan berhenti memberikan pertanyaan karena sudah tidak ada yang perlu ditanyakan lagi.
Namun Mbak Noni juga masih harus menjalani berbagai tes tulis dan tes rambu lalu lintas karena pekerjaannya sebagai supir bus sekolah. Mbak Noni mengaku jika dirinya sempat mau nangis saat mengerjakan tes karena soalnya cukup sulit. Namun dengan ketekutan dan keseriusan Mbak Noni untuk mengambil pekerjaan tersebut akhirnya Mbak Noni juga bekerja keras untuk bisa menjawab semua soalnya. Akhirnya perjuangan Mbak Noni untuk dapat mengerjakan soalnya berbuah manis, semua soal dapat dikerjakan dan benar.
Melewati Berbagai Rintangan

Menjadi supir bus sekolah tak senyaman yang dipikirkan banyak orang. Sebab pasti ada kejadian yang terjadi di dalam bus karena yang diangkut anak sekolah yang pada saat usia tersebut masih labil dan suka bermain.
Mbak Nur menceritakan jika pada suatu waktu saat dirinya mengendarai bus, anak-anak yang berada di dalam bus gaduh. Kegaduhan siswa-siswa itu tidak hanya sekedar obrolan yang terlalu ramai seperti pasar namun bahkan sampai lempar-lemparan kertas dan botol air mineral.
Setelah kesabaran Mbak Nur menipis, bus yang dikendarainya dihentikan tepat setelah melewati salah satu sekolah. Mbak Nur tidak memukul anak-anak itu, namun mengajak negosiasi dengan menumbuhkan rasa empati kepada anak-anak sekolah itu.
Selepas memberikan arahan kepada siswa-siswa tersebut, Mbak Nur mengambil dua kantong plastik dan ditaruh di tengah bus sembari berkata “jika bus belum bersih, bus tidak akan jalan”.
Tanpa aba-aba, siswa-siswa itu langsung memungut sampah-sampah yang ada di dalam bus agar cepat bersih dan bus bisa kembali jalan.
Mbak Nur menuturkan jika dirinya tidak bisa menghukum siswa yang membuat onar dibusnya karena sudah ada aturan siapa yang berhak menghukumnya. Supir bus hanya berwenang mencatat dan melaporkan kejadian tersebut ke pihak sekolah dan selanjutnya akan diproses oleh sekolah siapa yang mendapatkan hukuman.
Tak hanya mengalami kegaduhan siswa saat menyetir mobil, Mbak Nur ternyata juga sering nyasar. Pernah satu kejadian Mbak Nur harus putar balik karena jalannya buntu.
Cita-Cita yang Mulia
Ternyata cita-cita Mbak Nur cukup mulia. Dirinya menuturkan jika keinginannya sejak kecil memang bisa menolong orang nantinya dari pekerjaannya.
“Memang mungkin dari dari waktu kecil saya tuh cita-citanya selalu yang begitu, pengen jadi polisi, pengen jadi dokter, pengen jadi suster, jadi pengennya nolongin orang. Jadi setelah menjadi supir bus terasa memang ada rasa kepuasan sendiri setelah kita bisa melakukan sesuatu untuk orang lain.” jelasnya.
Mendapat Dukungan Dari Suami dan Anak

Mempunyai istri yang bekerja sebagai supir bus ternyata tida membuat suami Mbak Nur yakni Luqman Kirk malu. Bahkan sang suami mendukung penuh dan bangga dengan pekerjaan istrinya. Namun meski bangga, Luqman Kirk juga khawatir terhadap Mbak Nur karena harus menyetir kendaraan besar.
“Perlu waktu untuk terbiasa untuk menyetir bus setelah terbiasa jadi seperti menyetir mobil biasa. Dia tangguh, dia bangun pagi, menyetir bus delapan jam sehari.” kata suami Mbak Nur, Luqman Kirk.
Kisah Unik

Perjalanan Mbak Nur selama menjadi supir bus sekolah di Amerika ternyata ada kisah yang unik. Sebab menjadi muslim di negara yang mayoritas non muslim agak sedikit berbeda dari ketika berada di negara yang mayoritas muslim.
Kerap kali Mbak Nur merasa sendiri karena sedikit teman. Hal tersebut bukan tanpa alasan, sebab perkembangan media sekarang memang cukup mengerikan dan membuat negara mayoritas non muslim tidak langsung bisa humble dengan orang muslim.
Mbak Nur menceritakan jika ada supir bus sekolah yang dipecat hanya gara-gara menjalankan sholat tepat waktu.
“Pada saat mengendarai bus sekolah, ada supir bus sekolah seorang muslim yang menepikan busnya sebentar untuk menjalankan sholat. Namun entah ada salah satu siswa yang melapor atau bagaimana sehingga Departemen Transportasi mengecek kamera yang berada di dalam bus hingga mengetahui jika sang supir meninggalkan kemudinya, tak menunggu lama supir itu langsung dipecar” ujar Mbak Nur.












